NAWACITAPOST.COM — Bencana erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di kawasan Selat Sunda yang terjadi pada Sabtu (5/9/2026) dini hari memicu kecemasan publik di media sosial.
Paparan hujan abu vulkanik pekat dilaporkan telah menjangkau kawasan permukiman warga hingga memicu kekhawatiran terhadap kesehatan pernapasan.
Sebelumnya, Petugas Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau mengungkapkan bahwa Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB.
Aktivitas vulkanik tersebut memuntahkan material abu yang menyebar ke sejumlah wilayah di Provinsi Lampung.
Fenomena ini mengemuka setelah diunggah oleh akun Instagram @lampuung pada Sabtu (5/9/2026). Dalam unggahan tersebut, warga dilaporkan mengalami hujan abu hingga berdampak buruk bagi pernapasan.
"Tak menyangka debu vulkanik sudah sejauh ini dan banyak sekali, sehat-sehat pernapasan masyarakat krui," tulis postingan tersebut.
Tampak dalam video yang dibagikan, seorang warga memperlihatkan betapa pekatnya abu yang seolah mengguyur wilayah permukimannya di wilayah Pesisir Barat.
"Begini kondisi rumah warga di Pesisir Barat yang ikut terpapar abu vulkanik imbas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK)," sambungnya.
Selain di Pesisir Barat, abu vulkanik terpantau hingga ke permukiman warga dan mengotori rumah, sekolah, serta sejumlah tempat ibadah di Kabupaten Tanggamus, Lampung.
Dampak di Kabupaten Tanggamus
Dalam peristiwa ini, hujan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau dilaporkan juga melanda 3 kecamatan di Kabupaten Tanggamus, Lampung.
Tiga wilayah terdampak tersebut yakni Kecamatan Pematang Sawa, Kelumbayan, dan Cukuh Balak sejak Sabtu (5/9/2026) pagi. Hujan abu tebal dilaporkan mulai terjadi sekitar pukul 06.00 WIB dan disertai gempa kecil yang berulang.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Tanggamus, Hendarman Wahid, mengonfirmasi bahwa pihak otoritas terus memantau perkembangan kondisi di lapangan.
"Masyarakat kami imbau tetap waspada dan mempercayai informasi yang berasal dari sumber resmi, yaitu BPBD Kabupaten Tanggamus, BMKG dan Pemerintah Daerah Kabupaten Tanggamus,” kata Hendarman dalam keterangannya.
Guna mengantisipasi dampak buruk terhadap kesehatan pernapasan, Hendarman meminta masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama bagi anak-anak.
Warga yang harus beraktivitas di luar rumah dianjurkan menggunakan masker untuk mengurangi paparan abu vulkanik.
"Batasi aktivitas kita di luar ruangan, terutama bagi anak-anak, dan dapat menggunakan masker apabila beraktivitas di luar ruangan," jelas Hendarman.
"Dimohon kepada masyarakat tetap waspada, jaga kesehatan untuk melindungi diri kita masing-masing," sambungnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan korban jiwa maupun kerugian material dari lokasi terdampak.
Sementara itu, status Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Level III (Siaga). Masyarakat diimbau untuk tetap tenang serta terus mengikuti arahan dari lembaga berwenang.(AMRULLOH)