berita-peristiwa

Erupsi Anak Krakatau Tembus Tropopause, Asap Tebal Berpotensi Capai Negara Subtropis

Senin, 7 September 2026 | 11:21 WIB
Menyoroti erupsi Gunung Anak Krakatau pada kawasan Selat Sunda pada Sabtu, 5 September 2026. Berikut situasi terkini di lokasi. (Instagram.com/@halokrw - @bantenraya)
 
NAWACITAPOST.COM — Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dilaporkan mengalami erupsi berulang sejak Jumat (4/9) hingga Sabtu (5/9) dini hari.
 
Aktivitas vulkanik gunung yang terletak di antara pesisir barat Banten dan pesisir selatan Lampung ini memicu getaran serta suara dentuman misterius yang meresahkan warga di kawasan pesisir.

Di Pandeglang, Banten, getaran tersebut merembet hingga ke permukiman warga.
 
Baca Juga: Soal Polemik MBG di Wilayah Karhutla, Kepala BGN Buka Suara
 
"Tidak ada gempa yang dirasakan, namun pintu dan jendela rumah bergetar disertai suara dentuman yang terdengar berulang," tulis unggahan akun Instagram @bantenraya, Sabtu (5/9).
 
Warga mengaku bingung dan berharap ada penjelasan serta informasi resmi dari pihak berwenang agar tidak menimbulkan kepanikan.

Fenomena ini mendapat perhatian serius dari pakar. Peneliti senior dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Erma Yulihastin, menganalisis bahwa erupsi kali ini menyemburkan asap tebal berwarna cokelat pekat yang membumbung tinggi dan berpotensi menjangkau negara tetangga hingga wilayah subtropis.

"Kalau sampai secoklat ini terpantau satelit padahal di atas lautan, berarti letusannya tebal nih," tulis Erma melalui akun X pribadinya, @EYulihastin, Sabtu (5/9).
 
Baca Juga: Dua Relawan Damkar Kalteng Gugur Usai Berjuang Menembus Kobaran Karhutla

Erma menambahkan bahwa skala letusan kali ini sangat masif. "Ketinggian kolom diestimasi 13 km, itu sudah menembus hampir ke lapisan tropopause," tambahnya.

Erma menyoroti semburan warna cokelat pekat tersebut patut diantisipasi oleh pemerintah dan negara-negara tetangga. Ia menjelaskan bahwa letusan ini menghasilkan gemuruh dan lava fountain (lava air mancur) yang berdampak luas akibat mekanisme atmosfer global.

"Semburan kolom hingga tropopause itu bahaya sebab ada sirkulasi Hadley. (Hal) yang memungkinkan apa yang disemburkan di wilayah khatulistiwa bisa ditransfer ke negara-negara subtropis," ungkap Erma.

Sementara itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan kondisi terkini di lapangan. Berdasarkan situs magma.esdm.go.id pada Sabtu (5/9) pukul 11.30 WIB, cuaca di sekitar lokasi dilaporkan berawan hingga mendung dengan angin lemah hingga sedang ke arah barat laut.
 
Baca Juga: Sempat Dievakuasi dari Karhutla, Orang Utan Khas Kalimantan Sempurna Kini Telah Tiada

Pengamat Gunung Api PVMBG, Rioboniek Situmorang, menyampaikan situasi visual terkini di area kawah. "Pengamatan visual: Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati," tulis Rioboniek dalam laporannya.

Saat ini Gunung Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga). PVMBG mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif demi mengantisipasi bahaya yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Tags

Terkini