Senin, 29 Juni 2026

Festival Toekang 2026 Satukan Kampus, Industri, dan Tukang Profesional, Cetak SDM Konstruksi Berdaya Saing

Photo Author
Elya Yuddy Irawan, Nawacita Post
- Minggu, 28 Juni 2026 | 14:40 WIB

DCA Hadirkan Perkakas Profesional

Festival juga diikuti DCA Professional Power Tools yang memperkenalkan lebih dari 200 jenis perkakas listrik profesional.

Branch Manager DCA, Dian, menjelaskan berbagai produk seperti gerinda, bor, circular saw, blower hingga gergaji cordless berbasis baterai dipamerkan sekaligus dapat dicoba langsung oleh para peserta.

"DCA memberikan garansi enam bulan penggantian unit baru, servis gratis seumur hidup, serta ketersediaan suku cadang yang lengkap. Produk kami memang dirancang untuk kebutuhan industri dan pekerjaan profesional," jelasnya.

Menurut Dian, Festival Toekang menjadi media yang efektif mempertemukan produsen dengan pengguna akhir.

"Melalui kegiatan seperti ini para tukang bisa mengenal teknologi terbaru, mencoba langsung peralatannya, sehingga kompetensi dan kualitas pekerjaan mereka juga meningkat," ujarnya.

Universitas Ciputra: Arsitek Tidak Bisa Bekerja Sendiri

Ketua Program Studi Arsitektur Universitas Ciputra, Melanai Rahadiyanti ST MT, menyebut Festival Toekang menjadi contoh nyata kolaborasi antara perguruan tinggi, organisasi profesi, dan dunia industri.

Menurutnya, Universitas Ciputra memang mendorong seluruh program studi untuk membangun kemitraan dengan industri agar mahasiswa memperoleh pengalaman langsung di lapangan.

"Kami sangat senang diajak berkolaborasi oleh ArchLabs bersama Milan. Mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga memahami bagaimana dunia industri bekerja secara nyata," katanya.

Melanai menegaskan, keberhasilan sebuah karya arsitektur tidak pernah lepas dari peran tenaga terampil di lapangan.

"Arsitek tidak bisa bekerja sendiri. Sebagus apa pun desain yang dibuat, semuanya tidak akan terwujud tanpa keterampilan para tukang yang membangun di lapangan. Festival ini menjadi ruang bertemunya seluruh elemen dalam proses pembangunan," tegasnya.

Menurutnya, mahasiswa memperoleh pengalaman yang sangat berharga karena dapat berdialog langsung dengan vendor material, kontraktor, hingga para pekerja konstruksi.

"Mereka belajar bahwa membangun sebuah karya membutuhkan kolaborasi antara arsitek, kontraktor, industri material, dan tenaga terampil. Semua memiliki peran yang sama pentingnya," ujarnya.

Meneruskan Visi Ciputra

Melanai menambahkan, Universitas Ciputra terus membawa semangat pendirinya, almarhum Ciputra, dalam melahirkan karya arsitektur yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

"Kami ingin mahasiswa meneruskan cita-cita Pak Ciputra. Arsitektur bukan hanya menghasilkan bangunan yang indah, tetapi juga memberi manfaat bagi masyarakat luas. Bangunan harus inklusif, ramah bagi anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, dan seluruh lapisan masyarakat," ungkapnya.

Ia menilai tantangan arsitektur Indonesia ke depan bukan hanya menghadirkan desain yang menarik, tetapi juga menciptakan ruang hidup yang berkelanjutan, adaptif, serta mampu meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

Halaman:

Editor: Elya Yuddy Irawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini