Kamis, 4 Juni 2026

Pendidikan Indonesia di Malaysia: Kurikulum Jadi Sorotan

Photo Author
Elya Yuddy Irawan, Nawacita Post
- Senin, 8 Desember 2025 | 08:54 WIB

NAWACITAPOST.COM – Kunjungan pendidikan ke Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) dan Sanggar Bimbingan Wira Damai di Batu Caves, Selangor, menyoroti upaya Indonesia memastikan layanan pendidikan tetap terjangkau bagi pelajar di luar negeri—baik melalui jalur formal maupun non-formal. Fokus utama yang menjadi sorotan adalah penerapan Kurikulum Merdeka serta inovasi pendidikan bagi anak-anak pekerja migran Indonesia (PMI).

SIKL Terapkan Kurikulum Merdeka dengan Pendekatan Deep Learning

Sebagai sekolah formal di bawah naungan KBRI Kuala Lumpur, SIKL menerapkan Kurikulum Merdeka dengan pendekatan Deep Learning. Wakil Kepala SIKL menyatakan bahwa penerapan kurikulum ini di luar negeri membawa tantangan sekaligus peluang pembentukan karakter siswa.

“Kami ingin siswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki identitas kebangsaan yang kuat,” ujarnya.

Selain pendidikan formal, SIKL juga terhubung dengan berbagai sanggar bimbingan belajar yang dikelola komunitas WNI di Malaysia. Sanggar-sanggar tersebut menjadi unit layanan pendidikan yang melengkapi upaya sekolah dalam memperluas akses belajar.

“Sanggar-sanggar bimbingan belajar ini terintegrasi sebagai unit layanan pendidikan dari SIKL. Harapannya, jangkauan layanan pendidikan bermutu bagi seluruh pelajar Indonesia di Malaysia bisa semakin luas,” tambahnya.

Sanggar Wira Damai: Ruang Aman Belajar bagi Anak Pekerja Migran

Tidak semua anak PMI memiliki akses ke sekolah formal. Di sinilah peran Sanggar Bimbingan Wira Damai menjadi penting. Sanggar ini menyediakan pendidikan non-formal yang fokus pada literasi dasar, numerasi, dan penumbuhan minat belajar.

Pengelola sanggar, Lilis Diana, menegaskan komitmen mereka dalam membuka kesempatan pendidikan seluas-luasnya.

“Kami ingin memastikan setiap anak Indonesia tetap bisa belajar, meski berada dalam keterbatasan,” tegasnya.

Pendidikan Formal dan Non-Formal Sama-Sama Jaga Hak Anak Indonesia

Kunjungan ini menegaskan bahwa dua model pendidikan—formal di SIKL dan non-formal di Sanggar Wira Damai—sama-sama berperan penting. SIKL berfokus pada pembelajaran terstruktur dan berstandar nasional, sedangkan sanggar hadir sebagai solusi inklusif bagi anak-anak yang rentan terpinggirkan.

Keduanya menunjukkan wajah pendidikan Indonesia di luar negeri: berkarakter, adaptif, dan berpihak pada hak anak untuk belajar di mana pun mereka berada. ***

Penulis adalah Friendha Yuanta, Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya dan sebagai mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya.

Editor: Elya Yuddy Irawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini