NAWACITAPOST.COM — Memasuki musim hujan, sejumlah wilayah di Indonesia mulai diguyur curah hujan berintensitas tinggi. Kondisi jalanan yang basah serta bermunculannya genangan air menuntut kewaspadaan ekstra bagi seluruh pengguna jalan, baik pengemudi roda empat maupun pengendara roda dua.
Di balik jarak pandang yang terbatas dan licinnya permukaan aspal, terdapat satu ancaman tak kasat mata yang terbukti kerap berujung pada kecelakaan fatal: aquaplaning atau hydroplaning.
Meskipun potensi bahayanya sangat mematikan, masih banyak pengendara yang belum sepenuhnya memahami apa itu aquaplaning serta langkah-langkah konkret untuk mencegahnya saat melintas di tengah guyuran hujan.
Lembaga keselamatan jalan raya internasional pun terus menekankan pentingnya kesiapan fisik kendaraan untuk menghadapi ancaman ini.
"pengendara diingatkan untuk selalu menjaga kondisi kendaraan tetap prima guna meminimalisir risiko hilangnya kendali akibat genangan air di jalan raya," tulis National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) yang diakses Selasa (13/10/2026).
Momen Kritis: Ketika Kendaraan Melayang di Atas Air
Lantas, apa sebenarnya aquaplaning dan bagaimana penjelasannya secara fisika? Secara sederhana, aquaplaning adalah fenomena ekstrem di mana ban kendaraan kehilangan kontak secara total dengan permukaan jalan akibat adanya lapisan atau genangan air yang menumpuk secara mendadak di antara ban dan aspal.
Jika ditinjau melalui prinsip fisika dasar, setiap ban kendaraan dirancang khusus dengan alur atau kembangan (tread pattern).
Fungsi utama alur ini adalah membelah dan membuang air keluar dari tapak ban serapid mungkin, sehingga bahan karet ban dapat mempertahankan daya cengkeram (traction) secara optimal pada permukaan aspal.
Namun, skenario mengerikan terjadi ketika kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi melintasi genangan air. Dalam situasi tersebut, volume air tidak sempat dibuang sepenuhnya oleh alur ban.
Air yang terjebak lantas terkompresi kuat di bawah tapak ban dan membentuk selaput atau lapisan tipis yang sanggup mengangkat bobot kendaraan.
Berdasarkan hukum fisika, pada momen kritis inilah ban kendaraan Anda sebenarnya tidak lagi menapak di atas aspal, melainkan melayang atau "mengapung" di atas lapisan air.
Ketika traksi hilang total secara tiba-tiba, kemudi atau setir akan terasa sangat ringan, sistem kendali lumpuh seketika, dan kendaraan berisiko tinggi terlempar serta tergelincir tanpa arah.
Baca Juga: Menkeu Suahasil Nazara Dobrak Panggung Dunia: Suntik Modal Swasta, Dongkrak Sawit Rakyat!
Panduan Preventif Menghadapi Ancaman Aquaplaning
Guna meminimalisasi risiko terjebak dalam situasi yang mengancam jiwa ini, pengemudi wajib menerapkan langkah-langkah preventif utama selama berkendara di musim hujan:
- Kurangi Kecepatan Saat Hujan: Semakin cepat laju kendaraan, semakin pendek waktu yang dimiliki alur ban untuk membuang genangan air. Menurunkan kecepatan di jalan tol maupun jalan raya adalah kunci utama menjaga traksi.
- Periksa Kondisi Kembangan Ban (Tread Depth): Ban yang sudah aus atau gundul akan kehilangan fungsi alurnya secara drastis. Lakukan pemeriksaan berkala dan segera ganti ban jika ketebalan kembangan telah mencapai batas aman.
- Jaga Tekanan Angin Ban: Pastikan tekanan angin senantiasa sesuai dengan spesifikasi standar pabrikan. Tekanan udara yang pas membantu tapak ban menapak sempurna dan membelah lapisan air secara lebih efektif.
- Hindari Area Pinggir Jalan: Genangan air (puddle) umumnya terkumpul di bahu jalan atau sisi kiri akibat kontur aspal yang landai. Usahakan untuk tetap berkendara di lajur tengah yang relatif lebih kering dan aman.
Baca Juga: Jaga Kredibilitas Fiskal, Menkeu Suahasil Nazara Perkuat Strategi Ekonomi di Forum Global
Keselamatan di jalan raya merupakan tanggung jawab mutlak yang dimulai dari kesadaran setiap individu dalam memelihara kelayakan kendaraan.
Sebelum memulai perjalanan di musim hujan, pastikan moda transportasi Anda dalam kondisi siap tempur. Tetap waspada dan kurangi kecepatan!