advertorial

Gubernur Dedi Mulyadi: "Masjid Jangan Cuma Jadi Tempat Selfie, Hadirkan Tuhan Lewat Tajuk Kampung!"

Senin, 15 Juni 2026 | 15:15 WIB

NAWACITAPOST.COM — Di bawah kubah megah Masjid Raya Al-Jabbar yang bernuansa khidmat, sebuah refleksi mendalam tentang arah spiritualitas modern digaungkan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat secara mengejutkan mengumumkan peralihan fokus yang dramatis: menyetop perlombaan membangun megastruktur, dan beralih memprioritaskan pembangunan Tajuk—masjid-masjid kecil dan surau yang langsung menyentuh jantung lingkungan warga.

Visi besar ini ditegaskan langsung oleh Dedi Mulyadi Gubernur Jawa Barat, dalam momentum sakral Peringatan Hari Besar Islam Muharram 1448 Hijriyah, Selasa (9/6/2026). Di hadapan ribuan jemaah, pria yang akrab disapa KDM ini membawa pesan menohok tentang fenomena pergeseran fungsi rumah ibadah hari ini.

"Kalau masjid hanya jadi sarana rekreasi bukan sarana spiritualitas, maka ia hanya akan menjadi tempat selfie, bukan tempat tafakur," urai KDM dengan nada bertenaga namun penuh perenungan.

Baca Juga: Skandal Mbg Merambat Ke Lampung: Gurita Korupsi Pusat Menular, GPB Desak Kejagung Geledah 1.200 Dapur!

Kembalinya Ruh Ibadah ke Ruang Sunyi

Bagi KDM, Jawa Barat sudah tidak kekurangan masjid megah yang memanjakan mata. Yang justru mulai hilang adalah suara riuh anak-anak mengaji di sudut kampung dan keheningan sujud di sepertiga malam di surau-surau dekat rumah warga.

Pria yang identik dengan iket putihnya ini menegaskan bahwa esensi ibadah tidak pernah diukur dari kemegahan arsitektur, melainkan dari kedalaman hubungan makhluk dengan Sang Pencipta.

Melalui program ini, Pemprov Jabar akan bergerak secara bertahap dan terintegrasi untuk menghidupkan kembali tajuk-tajuk lokal tanpa perlu menambah birokrasi baru seperti pembentukan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) yang rumit. Fokus utamanya adalah fungsionalitas dan denyut spiritualitas yang konsisten.

Poin Utama Kebijakan Spiritual KDM:

  • Prioritas Tajuk Kampung: Membangun dan merevitalisasi masjid berukuran kecil di lingkungan yang paling membutuhkan.

  • Pusat Peradaban Mikro: Mengembalikan fungsi surau sebagai tempat anak-anak belajar mengaji dan tempat ibadah harian rakyat.

  • Efisiensi Tata Kelola: Memanfaatkan struktur sosial yang ada tanpa membebani warga dengan pembentukan DKM baru.

Baca Juga: Mata Rantai Yang Terputus: Gurita Bauksit Aseng dan Misteri Satu Meja di Kalbar

Menutup pidatonya yang menghanyutkan, KDM mengingatkan bahwa kemegahan fisik bisa menipu mata, namun keheningan jiwa adalah tempat sejati untuk menemukan Tuhan.

“Bertafakur bisa dilakukan di mana saja. Di kamar tidur, surau kecil, bawah pohon, tepi sawah, tepi danau, pinggir gunung, hingga tepi samudra. Tempat tak ada makna, yang paling utama adalah keheningan jiwa untuk mampu menghadirkan Tuhan dalam relung jiwa,” pungkas KDM disambut anggukan takzim para jemaah.

Sebuah langkah berani dari Jawa Barat: ketika dunia sibuk mempercantik tampilan luar, Bandung justru memilih pulang, merawat fondasi spiritual dari tempat yang paling sunyi dan dekat dengan rakyat.

Sumber: Humas Diskominfo Provinsi Jawa Barat.

Halaman:

Tags

Terkini