tokoh

Sejatinya Achmad Yurianto Salah Satu Nakoda Penanganan Covid-19

Minggu, 29 Maret 2020 | 10:38 WIB


"Tampak kurang tepat, karena penyebaran covid-19 bisa dari siapa kepada siapa,  yang sama sekali tidak mengenal kelas sosial ekonomi.  Selain itu, virus ini tidak memiliki pikiran dan perasaan sehingga tidak  bisa memilih siapa yang menjadi korbannya," pungkasjya.



Menurutnya boleh jadi kurang bijak. Pesan ini memosisikan adanya relasi sosial yang kurang setara.  Yang satu berada superior,  yang lain inferior. Dikotomi senacam itu tidak begitu linear dengan tatanan negara demokrasi, seperti di Indonesia.



"Selain itu, dari aspek manajemen Sumber Daya Manusia, penempatan seseorang pada jabatan dan fungsi tertentu,  sejatinya berdasarkan kompetensi keilmuan. Artinya, jubir merupakan profesi komunikasi dan bagian dari kajian Ilmu Komunikasi. Jadi, jubir itu sejatinya dari seorang komunikolog," tukasnya.



Namun ditambahkan Emrus, dalam penanganan covid-19, AY sebaiknya diposisikan sebagai salah satu "nakoda", ahli dan rekan sekerja jubir penanganan covid-19. Ketika menyangkut teknis dan akademik terkait dengan Covid-19, misalnya, AY yang menjelaskan. Murni dari aspek keilmuan.



"Di luar itu, yang sifatnya makro, kebijakan, dan aspek sosial lainnya, maka jubir yang berlatarbelakang Ilmu Komunikasi menyampaikannya," imbuhnya.

Halaman:

Terkini

DPR: Wakil Rakyat Atau Debt Collector Pajak?

Senin, 15 Juni 2026 | 15:13 WIB