tokoh

Mengenal Sosok Dr. dr. Sutoto, M.Kes, FISQua, Sang Arsitek Mutu Rumah Sakit Indonesia

Senin, 23 Februari 2026 | 14:53 WIB
Dr. dr. Sutoto, M.Kes, FISQua (Istimewa)

NAWACITAPOST.COM — Dalam ekosistem perumahsakitan Indonesia, nama Dr. dr. Sutoto, M.Kes, FISQua, bukan sekadar deretan gelar akademis, melainkan representasi dari dedikasi tanpa henti terhadap peningkatan standar keselamatan pasien.

Sebagai tokoh sentral dalam tata kelola klinis, ia dikenal luas sebagai sosok yang mengubah wajah akreditasi rumah sakit di tanah air dari sekadar formalitas administratif menjadi budaya mutu yang mendarah daging.

Jejak Akademis dan Fondasi Keilmuan

​Perjalanan dr. Sutoto berakar pada pemahaman mendalam mengenai manajemen kesehatan. Setelah menuntaskan pendidikan kedokterannya, ia melanjutkan studi Magister Kesehatan (M.Kes) yang mengasah kemampuannya dalam mengelola sistem makro kesehatan.

Baca Juga: Mengenal Tokoh KARS Indonesia, dr. Sutoto : Semangat Kembangkan Mutu Layanan Rumah Sakit

Puncak pencapaian akademisnya diraih melalui gelar Doktor, di mana ia memfokuskan risetnya pada efisiensi dan efektivitas pelayanan medis.
​Gelar FISQua (Fellow of the International Society for Quality in Healthcare) yang disandangnya membuktikan bahwa kompetensi dr. Sutoto telah diakui di level internasional.

Sertifikasi ini bagi dr. Sutoto bukan sekadar pajangan, melainkan legitimasi bahwa strategi mutu yang ia susun selaras dengan standar global yang diterapkan di negara-negara maju.

Kepemimpinan di KARS: Era Transformasi Akreditasi

​Kontribusi paling monumental dr. Sutoto tercatat selama masa jabatannya sebagai . Di bawah nakhodanya, KARS mengalami evolusi signifikan:

  • Standardisasi Global: Ia berperan vital dalam membawa KARS meraih pengakuan internasional dari International Society for Quality in Health Care (ISQua).
  • Penyusunan SNARS: dr. Sutoto merupakan tokoh kunci di balik penyusunan Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS). Ia mengintegrasikan elemen keselamatan pasien (Patient Safety) ke dalam setiap bab standar, memastikan bahwa setiap rumah sakit di pelosok Nusantara memiliki panduan operasional yang ketat.
  • Digitalisasi Sistem: Menginisiasi sistem informasi akreditasi yang lebih transparan dan efisien, memangkas birokrasi yang sebelumnya dianggap memberatkan manajemen rumah sakit.

Baca Juga: Hidden Paradise di Bandung, Wisata Cantik Sanghyang Kenit Dengan View Bebatuan Kars Kuno Yang Aesthetic

Filosofi Kerja: "Patient Centered Care"

​Dalam berbagai forum nasional maupun internasional, dr. Sutoto konsisten menyuarakan pentingnya Patient Centered Care (PCC). Baginya, rumah sakit bukan sekadar gedung penuh alat medis canggih, melainkan sebuah ekosistem yang harus berputar di sekeliling kebutuhan dan keamanan pasien.

​Ia sering menekankan bahwa mutu pelayanan kesehatan adalah sebuah perjalanan (journey), bukan tujuan akhir (destination). Filosofi ini ia tularkan kepada ribuan surveior akreditasi di seluruh Indonesia melalui pelatihan-pelatihan yang ia pimpin secara langsung.

Peran Strategis dan Pengabdian Berkelanjutan

​Selain di KARS, rekam jejaknya meliputi berbagai posisi strategis, termasuk keterlibatannya dalam Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI). Di sana, ia bertindak sebagai jembatan antara kebijakan pemerintah dan realitas lapangan yang dihadapi oleh para pengelola rumah sakit.

​Keahliannya dalam membedah kompleksitas manajemen risiko membuatnya sering dicari sebagai konsultan senior dan pembicara utama. Ia mampu menyederhanakan regulasi yang rumit menjadi langkah-langkah praktis yang bisa dieksekusi oleh tenaga kesehatan di garis depan.

Baca Juga: E-Book Kiprah Kars Dalam Pembangunan Kesehatan di Indonesia

Warisan bagi Dunia Kesehatan

​Dr. dr. Sutoto telah membangun fondasi yang kokoh bagi masa depan pelayanan kesehatan Indonesia. Warisannya bukan hanya berupa dokumen standar akreditasi, melainkan perubahan pola pikir (mindset) para praktisi kesehatan untuk selalu mengutamakan keselamatan di atas segalanya.

Halaman:

Tags

Terkini

DPR: Wakil Rakyat Atau Debt Collector Pajak?

Senin, 15 Juni 2026 | 15:13 WIB