Kamis, 4 Juni 2026

Bambang Rantam Sariwanto, Sekretaris Jenderal Kementerian Hukum dan HAM: Modal Saya Cuma Rajin dan Disiplin

Photo Author
Martin, Nawacita Post
- Kamis, 11 Juli 2019 | 22:25 WIB
Jakarta,NAWACITA-Bergelut di bidang hukum,awalnya bukan keinginan Bambang Rantam Sariwanto. Sekretaris Jenderal Kementerian Hukum dan HAM ini sempat ingin masuk ke fakultas ekonomi. Namun  karena formulir yang tersisa tinggal fakultas hukum, Bambang terpaksa memilih jurusan itu dan di terima di Universitas Negeri Sebelas Maret.

Merasa diri tidak pintar, Bambang pun bekerja dengan rajin. Ia berprinsip,apapun jika dikerjakan dengan tekun akan membuahkan hasil. Bambang memulai semuanya dari bawah, hingga kursi sebagai sekjen, yang juga orang kedua di Kemenkum dan HAM berhasil ia gapai. Berikut wawancaranya yang dikutip dari Hukumonline. Petikannya:

Bagaimana cerita awal berkarier di Kementerian Hukum dan HAM?

Kalau bercerita bagaimana saya berkarier di bidang hukum, mulainya dari ayah saya yang angkatan bersenjata lalu pensiun dan beralih jadi penasihat hukum sebuah perusahaan otobus di Pekalongan. Sedangkan ibu saya seorang pegawai negeri sipil di Departemen Perdagangan (sekarang Kementerian Perdagangan-red). Sehari-hari saya melihat bagaimana ayah saya menangani kasus hukum perusahaan otobus. Ada saja kasus kecelakaan yang membuat harus bersidang.

Singkat cerita, keduanya memberi kesan tersendiri bagi saya. Saat akan masuk kuliah, kedekatan saya dengan Ibu membuat saya ingin berkuliah di Fakultas Ekonomi (FE). Pekerjaan Ibu yang banyak berkaitan dengan ekonomi dan koperasi lebih menginspirasi saya. Di sisi lain, hobi saya membaca berita sosial politik di koran membuat saya ingin kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).

Akhirnya saya daftar seleksi masuk FISIP Universitas Indonesia dan STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Keduanya tidak diterima. Lalu saya coba lagi daftar masuk FE di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Solo dengan cita-cita ingin kerja di Bank. Saat antre di loket pengambilan formulir, ternyata formulir FE sudah habis. Formulir yang ada tinggal Fakultas Hukum. Ya sudah saya ambil dan ternyata diterima. Ibu saya mendukung, begitu juga ayah saya.

Saya lulus dengan masa studi enam tahun. Selama kuliah aktif di Senat, Badan Pertimbangan Mahasiswa, berbagai kepanitiaan acara, dan aktifitas kemahasiswaan lainnya. Saat lulus masih tetap ingin kerja di Bank. Saya sudah lolos seleksi pegawai Bank Niaga sampai tahap wawancara di Jakarta namun gagal. Ya sudah, saya ambil kerja di perusahaan asuransi. Setelah bekerja enam bulan, ayah saya memanggil pulang ke Pekalongan untuk menjadi pengacara. Selama hampir dua tahun saya berpraktik pengacara.

Selama menjadi pengacara itu saya dapat pengalaman baru dan terdorong ingin terlibat dalam pendidikan para hakim. Saya merasakan praktik peradilan yang perlu banyak diperbaiki. Kebetulan paman saya menawari pekerjaan di Sekretariat Jenderal Departemen Kehakiman (sekarang Kementerian Hukum dan HAM-red) bagian Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) yang ada di Cinere, Depok. Saya ambil tawarannya dan terlibat jadi penyelenggara diklat Departemen Kehakiman se-Indonesia termasuk untuk para hakim.

Wah, jadi semua serba tidak terduga ya Pak? Lalu bagaimana ceritanya dari Pusdiklat di Cinere bisa mencapai puncak karier sebagai Sekretaris Jenderal di kantor pusat?

Nah, sejak tahun 1988 sampai 1999 saya di Pusdiklat, saat itu ada evaluasi kinerja oleh pimpinan. Saya dan satu orang teman dipromosikan ke kantor Sekretariat Jenderal dengan pilihan bagian hubungan masyarakat atau tata usaha. Ternyata dia pilih duluan untuk bagian hubungan masyarakat, ya sudah saya ambil bagian tata usaha.

Pekerjaan pertama saya di tata usaha adalah merapikan tumpukan arsip yang sudah memenuhi seisi ruangan. Persis seperti gudang. Setahun di Jakarta, saya ditawari kembali ke Pusdiklat untuk membenahi Pusdiklat. Tahun 2000 saya lakukan pembenahan besar-besaran di Pusdiklat mulai dari sarana prasarana hingga programnya. Saya buat kerja sama beasiswa S2 dengan Universitas Indonesia lewat Pusdiklat. Para pegawai Departemen Kehakiman jadi bisa ikut S2 di Universitas Indonesia.

Hasil pembenahan ini membuat Pusdiklat dinilai cocok untuk ditingkatkan menjadi lembaga yang lebih mandiri. Saya lakukan proses untuk menjadi Badan Pembinaan Sumber Daya Manusia (BPSDM). Namun sebelum selesai peningkatan status, saya dipromosikan menjadi Kepala Divisi Administrasi di Kantor Wilayah Kehakiman Provinsi Banten. Setahun saya di sana, lalu ditarik Menteri Hukum dan HAM saat itu Pak Hamid Awaludin untuk menjadi Kepala Biro Umum di Sekretariat Jenderal. Setahun kemudian diminta menjadi Kepala Biro Perlengkapan.

Ternyata hanya 1,5 tahun saja saya sudah dipindahkan lagi menjadi Kepala Kantor Wilayah di Yogyakarta. Setahun di Yogyakarta, saya diangkat sebagai Kepala Kantor Wilayah di Jakarta oleh Pak Patrialis Akbar yang saat itu menjabat Menteri Hukum dan HAM. Hanya setahun, saya dipindahkan lagi menjadi staf ahli Pak Patrialis.  Tidak lama, sekira empat bulan, saya ditugasi menjabat Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal. Saat itu April 2011. Ternyata di bulan Agustus diangkat menjadi Sekretaris Jenderal. Saya menyelesaikan S3 di Universitas Padjajaran bertepatan pelantikan sebagai Sekretaris Jenderal saat itu.

Jadi sudah pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal sebelumnya?

Ya, antara 2011-2013. Lalu Menteri yang baru, Pak Amir Syamsudin, meminta saya memimpin BPSDM. Setelah Pak Yasonna menjabat Menteri, saya ditarik lagi menjadi Sekretaris Jenderal sampai saat ini.

Apa sebabnya anda menyempatkan studi lanjutan hingga doktor selama berkarier? Padahal jabatan tinggi sudah dicapai.

Saya ini dikenal sebagai pekerja, bukan orang yang pintar. Saya ingin buktikan saya bisa menuntaskan pendidikan akademik walaupun semuanya selesai pas-pasan nyaris habis masa studi. Hehehe

Karier anda tampak begitu cepat meningkat, siapapun Menteri yang menjabat tampaknya percaya dengan kinerja anda. Apakah ada tips khusus?

Orang tua saya mendidik disiplin, harus bangun pagi dan harus rajin. Ayah saya kan pensiun dari tentara, jadi saya menikmati digedor-gedor. Modal saya ya rajin. Sejak dari BPSDM saya biasa masuk paling pagi dan pulang paling malam. Saya lakukan sampai sekarang. Pimpinan akan senang dengan mereka yang totalitas. Dan saya lakukan dengan suka cita. Saya belajar mencintai apa yang saya kerjakan. Apalagi saya berpikir bahwa saya tidak cukup pintar, jadi apa saja saya kerjakan sebaik-baiknya. Itu saja.

Saya biasa tiba pukul lima pagi di kantor. Kalau diperlukan saya akan menginap di kantor. Jadi yang pertama adalah disiplin. Kedua, ketekunan. Ketiga adalah mencintai pekerjaan. Selain itu sering saya sampaikan pada para staf agar bekerja jangan memikirkan uang. Rezeki nanti akan datang mengikuti. Memang kebetulan saya didukung istri yang bekerja di Bank. Saya baru cerita berapa gaji saya sejak jadi Sekretaris Jenderal. Soalnya dengan gaji dia saja sudah cukup. Hehehe

Apakah capaian sejauh ini karena bantuan Paman anda yang dulu adalah Menteri Kehakiman, Pak Ismail Saleh?

Tidak ada. Dulu saya masuk dengan pendidikan sarjana hukum, tapi penempatan di Pusdiklat, Cinere Depok. Kerjaan awal saya ngangkat meja, gotong kursi. Pusdiklat baru pindah ke sana 1987, kantor baru di sana, masih sepi dan seram. Saya dan paman jarang ngobrol. Kalau berkunjung saya pasti di garasi saja karena orangnya galak.

Beliau adalah adik dari ayah saya. Kalau memang ada bantuan pasti saya bisa langsung ditunjuk ke tempat yang bagus, apalagi saat itu rekrutmen pegawai kan asal tunjuk titipan dari orang dalam. Beliau meninggal waktu saya menjabat Kepala Biro. Nah, memang ada doa beliau agar saya jadi Sekretaris Jenderal saat dua minggu sebelum meninggal. Sekarang tercapai.

Berkaitan dengan unit yang anda tekuni sejak awal berkarier, apa sebenarnya peran vital Sekretariat Jenderal di dalam Kementerian?

Kami memberikan dukungan manajerial. Berbeda dengan Inspektorat yang menangani pengawasan dan setiap Direktorat memiliki fungsi teknis masing-masing. Dukungan manajerial kami meliputi pengelolaan sumber daya manusia, perlengkapan, keuangan, dan semacamnya. Supporting unit baik untuk Menteri maupun unit lainnya.

Berbagai inovasi dari Direktorat tidak akan berjalan tanpa dukungan manajerial yang baik. Kami ini melakukan pelayanan publik, harus banyak inovasi untuk memenuhi ekspektasi publik yang terus berkembang. Apalagi saat ini masanya revolusi industri 4.0. Pelayanan publik juga harus berkembang. Nah, Sekretariat Jenderal membantu berbagai urusan manajerial berjalan lancar. Mulai dari rekrutmen sumber daya manusia sudah dengan dukungan Sekretariat Jenderal.

Posisi Sekretaris Jenderal kerap dianggap sebagai orang nomor dua. Tapi bagi saya dia tidak lain adalah pembantu umum. Saya melayani semua orang di Kementerian. Dimarahin ya boleh, dikritik sudah pasti. Secara struktural memang seakan-akan berkuasa, namun tidak seharusnya begitu. Prinsipnya, menjadi Sekretaris Jenderal harus jadi pembantu umum agar semua fungsi berjalan baik secara maksimal.

Apa yang anda harapkan untuk dicapai Sekretariat Jenderal?

Saya ingin membantu Kementerian mendapatkan berbagai penghargaan tingkat nasional. Kalau lihat Kementerian lain banyak yang naik prestasinya. Jadi saya ingin mendorong untuk bisa mencapai itu. Mendukung berbagai inovasi direktorat-direktorat di Kementerian Hukum dan HAM.

Editor: Martin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini