politik

Gerakan Pekan Peduli Sampah Nasional, PDIP Surabaya Targetkan 100 Titik TEBA

Selasa, 3 November 2026 | 16:54 WIB
Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya yang juga Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji

 

SURABAYA, NAWACITAPOST.COM – Persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan mengangkut dan membuangnya ke tempat pembuangan akhir (TPA). Pengolahan dari sumbernya justru menjadi kunci. Inilah yang coba didorong PDI Perjuangan melalui gerakan Pekan Peduli Sampah Nasional dengan menginstruksikan seluruh struktur partai untuk membangun tempat pengolahan sampah organik berbasis lingkungan.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya yang juga Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, mengatakan, pihaknya menyiapkan sekitar 100 titik pembangunan TEBA (tempat pengolahan sampah organik) yang tersebar di berbagai wilayah Kota Pahlawan.

Gerakan tersebut merupakan instruksi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan yang akan dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia pada 14 November 2026.

Armuji menjelaskan, TEBA merupakan lubang pengolahan sampah organik yang dirancang agar sampah rumah tangga, terutama sisa makanan dan bahan organik lainnya, tidak langsung berakhir di tempat pembuangan akhir.

"Untuk kegiatan PDI Perjuangan Kota Surabaya ke depan, masalah sampah ini menjadi perhatian. PDI Perjuangan yang diinisiasi DPP akan membuat TEBA. Gunanya untuk pembuangan sampah organik yang nantinya bisa dimanfaatkan menjadi pupuk," ujar Armuji, Selasa (3/11/2026).

Menurutnya, sampah organik yang telah terurai dapat menghasilkan pupuk dan selanjutnya dimanfaatkan untuk menanam berbagai tanaman produktif. Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak berhenti pada proses pembuangan, tetapi menghasilkan manfaat ekonomi dan lingkungan bagi masyarakat.

TEBA Dibuat dengan Berbagai Ukuran

Armuji menyebut, pembangunan TEBA akan menyesuaikan kondisi lahan dan kebutuhan masing-masing wilayah. Tidak semua lokasi harus menggunakan ukuran yang sama.

Ia mencontohkan konsep lubang berukuran besar yang disebut Mega Pertiwi, dengan dimensi 3 meter x 3 meter dan kedalaman 3 meter. Sementara untuk kawasan yang lebih terbatas, seperti lingkungan pasar dan perkampungan, ukuran TEBA dapat dibuat 1,5 meter x 1,5 meter dengan kedalaman 1,5 meter.

"Kalau di daerah perkampungan, pengelolaannya diserahkan kepada masyarakat. Jadi masyarakat juga terlibat langsung dalam mengelola sampah organik di lingkungannya," jelasnya.

Di Surabaya, sekitar 100 titik menjadi target awal pembangunan. Lokasinya akan disebar dengan mempertimbangkan ketersediaan lahan yang memungkinkan untuk penggalian dan pembangunan TEBA.

Armuji menegaskan, gerakan tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial. Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting agar fasilitas yang dibangun benar-benar dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Surabaya Masih Menghadapi Beban Sampah 1.810 Ton per Hari

Gerakan yang diinisiasi PDI Perjuangan ini memiliki relevansi dengan persoalan persampahan di Surabaya.

Berdasarkan keterangan resmi Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) pada 7 Maret 2026, timbulan sampah Kota Surabaya mencapai sekitar 1.810,81 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 31,49 ton per hari masih belum terkelola.

Artinya, pengurangan sampah dari sumbernya tetap menjadi pekerjaan penting, meskipun Surabaya memperoleh penilaian tertinggi dalam evaluasi kinerja pengelolaan sampah tahun 2025 dan berhak mendapatkan Sertifikat Menuju Kota Bersih.

Halaman:

Tags

Terkini