Jawabannya tentu belum dapat dipastikan.
Namun sejarah politik menunjukkan bahwa kedekatan dengan masyarakat tidak pernah menjadi sesuatu yang tidak bernilai.
Rini dan ruang publik yang semakin lebar
Menariknya, Rini tidak hanya tampil sebagai pendamping wali kota.
Dalam berbagai agenda pemerintahan, ia memiliki ruang kegiatan sendiri dengan isu yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat: anak, pendidikan, keluarga, kesehatan dan pemberdayaan perempuan.
Ini membentuk sebuah positioning yang cukup jelas.
Jika Eri identik dengan pemerintahan kota dan kebijakan pembangunan, Rini memiliki ruang yang berbeda: keluarga, perempuan, anak dan komunitas sosial.
Secara politik, positioning seperti itu memiliki nilai.
Bukan karena otomatis menghasilkan suara, tetapi karena memungkinkan sebuah figur dikenal masyarakat melalui jalur yang lebih lunak dan tidak selalu terasa sebagai aktivitas politik.
Dari kegiatan PAUD, PKK, Posyandu, SOTH hingga kegiatan sosial lainnya, seorang figur dapat membangun hubungan dengan kelompok masyarakat secara berulang.
Sekali lagi, ini bukan bukti adanya kampanye terselubung.
Tetapi secara komunikasi politik, eksposur yang konsisten adalah salah satu cara membangun pengenalan publik.
Lalu bagaimana dengan legacy Eri?
Pertanyaan berikutnya menjadi lebih menarik ketika dikaitkan dengan berbagai program besar pemerintahan Eri Cahyadi.
Salah satunya pembangunan fasilitas kesehatan.
RSUD Eka Candrarini di Surabaya Timur merupakan salah satu proyek pembangunan fasilitas kesehatan yang menjadi bagian dari penguatan layanan kesehatan kota.
Pemkot juga pernah menyampaikan rencana pembangunan RSUD lainnya di Surabaya Selatan dan Surabaya Utara.