politik

Refleksi Kudatuli 30 Tahun, Orasi Gen Z Tegaskan Demokrasi Dibayar dengan Darah Pejuang

Minggu, 26 Juli 2026 | 23:21 WIB

"Hari ini kita bebas menyampaikan pendapat di media sosial tanpa takut diculik. Kebebasan itu dibayar dengan darah para pejuang demokrasi. Karena itu, tugas generasi kami adalah menjaga agar pintu demokrasi tidak kembali tertutup," ujar Queensya.

Ia mengajak generasi muda tidak sekadar mengenang Kudatuli sebagai peristiwa sejarah, melainkan menjadikannya sebagai inspirasi untuk terus memperjuangkan keadilan, keberanian, dan keberpihakan kepada masyarakat.

Prof. Hotman: Perjuangan Demokrasi Kini Berpindah ke Ruang Wacana

Sementara itu, sosiolog Universitas Airlangga Prof. Hotman Siahaan menilai perjuangan demokrasi saat ini tidak lagi hanya berlangsung di jalanan, tetapi juga melalui pertarungan narasi di ruang publik.

Menurutnya, siapa yang menguasai wacana akan memiliki pengaruh besar dalam membentuk cara berpikir masyarakat.

"Siapa yang menguasai wacana akan menguasai realitas. Itulah yang terjadi sejak masa Orde Baru hingga sekarang. Demokrasi juga dipertaruhkan melalui pertarungan narasi," ujarnya.

Prof. Hotman mengingatkan bahwa tantangan demokrasi saat ini berbeda dengan 30 tahun lalu. Jika dahulu tekanan dilakukan secara fisik, kini pertarungan berlangsung melalui penyebaran opini dan pembentukan persepsi publik.

Ia menegaskan, semangat Kudatuli harus tetap hidup sebagai pengingat bahwa demokrasi hanya dapat bertahan apabila masyarakat berani menyuarakan kebenaran dan terus melakukan kontrol terhadap kekuasaan.

Refleksi 30 Tahun Kudatuli ditutup dengan seruan menjaga persatuan kader, penghormatan kepada para pejuang demokrasi, serta ajakan agar generasi penerus terus merawat nilai-nilai perjuangan yang menjadi fondasi lahirnya reformasi di Indonesia. ***

Halaman:

Tags

Terkini