NAWACITAPOST.COM – Sebuah momentum kebangsaan yang menggetarkan jiwa membakar semangat ratusan pemimpin umat di Gedung Djava Ministry, Sleman, Yogyakarta, Rabu (15/7/2026). Di tengah dinamika situasi nasional yang kian tajam, sebuah seruan lantang menggema membangkitkan kesadaran kolektif: Indonesia sudah lebih dari cukup untuk menjadi negara maju, dan umat Kristen bukanlah penonton, melainkan pemilik sah sejarah bangsa ini!
Panggung Diskusi Kebangsaan bertajuk "Menyikapi Situasi Nasional Terkini" yang diinisiasi oleh Forum Komunikasi Kristen (FKK) DIY bersama PGLII, BAMAGNAS, DPP KAWAL Indonesia, PIKI, dan API DIY tersebut berubah menjadi magnet pergerakan. Di hadapan para pimpinan Ormas Kristen, rektor, dosen Sekolah Tinggi Theologia (STT), serta Pembimas Kristen DIY, atmosfer ruangan memanas begitu sang narasumber utama naik ke podium.
Dia adalah Dr. dr. Ruyandi Hutasoit, Sp.U.
Baca Juga: KDM Ajak Orangtua Batasi Penggunaan Gawai pada Anak Demi Kesehatan
Nama yang tak asing lagi dalam palagan perjuangan minoritas. Pria tangguh yang pernah mengukir sejarah emas saat memimpin Partai Damai Sejahtera (PDS) hingga berhasil menempatkan satu fraksi utuh di DPR RI periode 2004–2009 ini, kini kembali turun ke medan laga sebagai Ketua Umum Partai Setara Indonesia (PASTI).
Membakar Semangat: "Kita Bukan Penonton, Kita Pelaku Sejarah!"
Dengan retorika yang dramatis dan memukau, dokter spesialis urologi senior dari Universitas Kristen Indonesia (UKI) ini membawa seluruh audiens melintasi lorong waktu. Ruyandi mengupas tuntas darah dan air mata sebelum serta sesudah kemerdekaan. Ia mengingatkan kembali momen krusial saat fondasi Republik ini nyaris retak karena ego kelompok yang memaksakan "Tujuh Kata" Piagam Jakarta.
"Bangsa ini tidak didirikan sebagai negara agama, bukan pula negara sekuler! Ini adalah Negara Kebangsaan yang menyatukan Sabang sampai Merauke!" tegas Ruyandi, disambut gemuruh tepuk tangan.
Baca Juga: Kekuatan Baru di Bumi Khatulistiwa: Panglima Jilah Resmi Daulat Jadi Pelindung BRN Kalbar!
Ia membangkitkan memori kolektif tentang kepahlawanan Sam Ratulangi dan Johanes Latuharhary—perwakilan Kristen dari Indonesia Timur—yang dengan tegas menolak diskriminasi demi menjaga keutuhan NKRI. Keputusan besar itulah yang melahirkan sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa.
"Dari sejarah ini kita harus sadar: orang Kristen ikut meletakkan batu pertama dasar negara ini. Kita bukan penonton yang duduk di pinggir lapangan. Kita adalah pelaku sejarah!" pekik Ruyandi membakar dada para hamba Tuhan yang hadir.
Narasi Besar: Indonesia Tidak Perlu Kelaparan dan Miskin!
Bukan sekadar bicara sejarah, Ruyandi Hutasoit melayangkan visi masa depan yang luar biasa optimistis namun menampar realitas. Ia menegaskan bahwa potensi Sumber Daya Manusia (SDM) dan limpahan Kekayaan Alam Indonesia secara matematis sudah sangat lebih dari cukup untuk melontarkan Indonesia menjadi negara maju.
"Indonesia punya modal yang sangat besar. Seharusnya, di tanah sekaya ini, tidak boleh lagi ada rakyat yang miskin! Tidak boleh ada anak yang kelaparan! Tidak boleh ada anak bangsa yang susah sekolah dan kesulitan berobat! Semua sudah tersedia, kuncinya hanya satu: kelola alam ini dengan hati yang benar dan bersih!" cetus Ketua Umum Partai PASTI tersebut.
Tags
Terkini
Guncang Yogyakarta! Ruyandi Hutasoit Serukan Kebangkitan Indonesia Menuju Negara Maju
Jumat, 17 Juli 2026 | 08:13 WIBPAN Surabaya Siap Hadapi Verifikasi KPU, Ghofar Ismail Bentuk 5.000 Relawan hingga Tingkat Kelurahan
Rabu, 8 Juli 2026 | 19:08 WIBGeledek dari Selatan: Tokoh Besar Laimbonga Gabung Hanura, Peta Politik Sumba Timur Bergetar!
Rabu, 1 Juli 2026 | 14:10 WIBRatusan Anak Muda Bantarjaya Bersatu, Nyatakan Dukungan Total untuk Misri di Pilkades 2026
Rabu, 1 Juli 2026 | 09:10 WIBBedah Buku Marhaenisme: Dalil Baru bagi Gen Z. Rocky Gerung: Gen Z Harus Hidup Baik, Jangan Hidup Jokowi!
Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:32 WIBRp17,3 Miliar Uang Rakyat Mengalir ke Partai Politik di Surabaya, Dampak ke Warga Apa?
Senin, 22 Juni 2026 | 14:19 WIBAnggaran Belum Cair, Hajat Pilkades Serentak 154 Desa di Bekasi Terancam Lumpuh!
Senin, 22 Juni 2026 | 10:21 WIBHaul Bung Karno, PDIP Surabaya Ajak Gen Z Lawan Desukarnoisasi
Senin, 22 Juni 2026 | 01:33 WIBRawat Persatuan! PAC PDIP Bulak Silaturahmi ke MWCNU, Hidupkan Spirit Bung Karno
Kamis, 18 Juni 2026 | 09:20 WIBEri Cahyadi 'Ngedabrus'? Jangan Biarkan Nama Partai Tercoreng!
Minggu, 14 Juni 2026 | 17:27 WIBLaunching Banteng Kalcer, PDIP Surabaya Ubah Cara Anak Muda Melihat Politik
Minggu, 14 Juni 2026 | 17:11 WIBRupiah Jatuh, BBM Melejit: Jeritan Rakyat Di Tengah Badai Ekonomi
Jumat, 12 Juni 2026 | 15:56 WIBAlarm Reformasi Berbunyi: RUU Polri di Titik Nadir Demokrasi!
Rabu, 10 Juni 2026 | 11:31 WIB“Akhirnya Ada Kita di Sana”: Lompatan Politik Umbu Pajaru Lombu, Dari Menara Gading ke Jantung Hanura
Senin, 8 Juni 2026 | 09:39 WIBRumor Agustus 2026 Runtuh: Pintu Pendaftaran Parpol Tetap Terbuka, Partai PASTI Siap Menggebrak!
Rabu, 3 Juni 2026 | 11:32 WIBIduladha 2026, Reni Astuti Ajak Masyarakat Meneladani Semangat Berkurban untuk Berbagi dan Berdaya
Kamis, 28 Mei 2026 | 13:41 WIBSalurkan Hewan Kurban DPD Jatim ke Santri, PDIP Surabaya: Hadir bersama Rakyat
Kamis, 28 Mei 2026 | 11:42 WIBDemokrat Surabaya All Out di Idul Adha: Ribuan Paket Daging Kurban Mengalir ke Warga
Rabu, 27 Mei 2026 | 23:44 WIBCurhat Marbot Masjid di Surabaya Usai Dapat MBG PDIP dari Anas Karno di Malam Takbiran
Rabu, 27 Mei 2026 | 00:07 WIB