Baca Juga : Moeldoko Jawab Cikeas : Anak Istrinya Tak Masuk Dalam Struktur Partai
SEPERTI yang terungkap dari Gede Pasek loyalis mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Menurut Pasek, bahwa Susilo Bambang Yudhoyono dituding melakukan kerja sama dengan oknum di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mendesain Anas Urbaningrum menjadi tersangka. Pernyataan pasek disampaikannya lewat Youtube Akbar Faizal Uncensored berjudul “Testimoni Saksi Peristiwa Kriminalisasi Hukum dan Politik SBY terhadap Anas. Terjadi pengambilalihannya, tahun 2013 “SBY sudah mendesain dengan oknum di KPK, bahwa Februari (2013 -red) harus sudah selesai ini. Anas Urbaningrum sudah selesai, pengambilalihan sudah bisa dilakukan,” ungkap Pasek.
Pasek kemudian merunut bagaimana SBY memberikan sinyal politik kepada KPK agar segera memproses Anas Urbaningrum. Sinyal tersebut, menurut Pasek, disampaikan SBY saat kunjungan kerja kepresidenan ke Jeddah.
“Tanggal 4 (Februari 2013) itu, jelas sekali itu pidato SBY kepada KPK, spesial sekali. SBY pidato dari Jeddah menyampaikan kepada KPK dengan bahasa kalau salah katakan salah, kalau tidak salah tolong jelaskan kenapa tidak salah,” ucap Pasek meniru SBY dikutip dari kompastv, seprti dilansir makassar terkini.co.id.
“Mestinya kan kalau salah katakan salah, kalau benar katakan benar, Kalau terbukti katakan terbukti, kalau tidak terbukti katakan tidak terbukti. Itu logikanya, nah karena narasi kalimatnya seperti itu, itu bahasa politik yang dibaca pesan kekuasaan kepada KPK, bahwa barang ini harus sudah selesai,” tambah Pasek.
Kemudian 7 Februari 2013, Pasek menceritakan bahwa media mendapat keterangan dari Syarief Hasan jika Anas Urbaningrum sudah ditetapkan tersangka oleh KPK. Meski dibantah oleh Syarief Hasan, kata Pasek, tetapi kemudian ada sprindik Anas Urbaningrum yang bocor.
“Tanggal 7 malam itulah kemudian muncul sprindik bocor yang tanpa ada gelar perkara, dua komisioner sudah tandatangan, Abraham Samad dan Bambang Widjojanto,” ungkap Pasek.
“Kalau nggak salah Pak Pandu juga sempat disuruh tandatangan, tapi kemudian menarik tandatangannya,” tambah Pasek.
Pasek menuturkan, fakta adanya sprindik yang bocor dan pernyataan Syarief Hasan yang beredar di media soal Anas Urbaningrum tersangka membuat SBY merubah peta.
Tetapi, kata Pasek, SBY sudah mengambilalih langsung Partai Demokrat dari tangan Anas Urbaningrum pada 8 Februari 2013 melalui rapat Majelis Tinggi Partai. Tetapi dalam rapat Majelis Tinggi tersebut, Anas Urbaningrum menolak.
“Itulah kudeta yang artinya beliau (SBY) turun tangan langsung, beliau rapatkan tanpa melalui kongres, dia ambil itu semua,” ujar Pasek. Pengambil aliran Partai ini, sambung Pasek, berlanjut dengan SBY mengundang DPD-DPD dan DPC-DPC ke Cikeas pada 10 Februari 2013 tanpa sepengetahuan Anas Urbaningrum.
Jadi sangat jelas. Setelah kader dan deklarator Demokrat ; Marzuki Alie, Jhoni alen Marbun, Max, Sopacua, Hengky Luntungan, Damrizal dan kini Gede Pasek menyampaikan hal tentang Cikeas (SBY) yang penuh dengan kekusutan dan kekisruhan Demokrat, asal muasalnya dari Presiden RI ke - 6