Banyak rakyat yang digusur rumahnya, diambil tanahnya tanpa ganti rugi, banyak pula yang dibunuh. Media-media massa yang kritis pada Rezim Soeharto dibredel, aktivis-aktivisnya diculik, pemimpin-pemimpin buruh diculik dan dibunuh.
Olehnya, rakyat di masa itu bukan hanya melawan sistemnya, melainkan melawan kekejian Soeharto dan kroni-kroninya itu sendiri.
Sebab jika tidak demikian maka rakyat tidak akan pernah mempunyai harapan untuk hidup lebih maju, aman dan sejahtera.
Lah kalau kemudian sekarang ada sekelompok orang yang mengaku-ngaku sebagai Aktivis '98, lalu berkumpul di sebuah hotel mewah dan memberikan dukungan untuk Prabowo-Gibran itu apa motivasinya? Quo Vadis Aktivis '98?.
Haruskah ada dikotomi baru, Aktivis '98 Original dan Aktivis '98 KW 2?
Jokowi yang mulai lupa diri dan suka mencla-mencle sudah terang-terangan mendukung Prabowo dengan menitipkan anaknya untuk menjadi Cawapresnya Prabowo, itu juga sudah merupakan bukti penghianatan Jokowi pada amanat Reformasi '98.
Lah kenapa oleh sebagian aktivis yang mengaku-ngaku sebagai Aktivis '98 itu juga diberikannya dukungan?.
Saya benar-benar curiga, pasangan Capres-Cawapres Prabowo-Gibran ini nampaknya sudah merasa mau kalah, hingga apapun dilakukannya meski sangat terlihat membuat orang geli dan tertawa, sebagian lainnya juga sangat sedih, karena Jokowi dan yang didukungnya banyak menabrak-nabrak etika, moral dan berbagai peraturan di dalamnya.