pendidikan

Menatap Reruntuhan Sekolah, Menggugat Gurita Korupsi di Dinas Pendidikan Padangsidimpuan

Rabu, 1 Juli 2026 | 21:15 WIB

NAWACITAPOST.COM — Udara di Padangsidimpuan mendadak pekat oleh amarah. Air mata seorang ibu tidak lagi menetes karena sedih, melainkan terbakar oleh tuntutan keadilan yang membara. Pada Rabu, (1/7/2026), sebuah jeritan dari garis depan pertahanan moral meledak di hadapan awak media.

Orang tua murid dari siswi berinisial AlG, secara resmi dan terbuka mendesak Kejaksaan Negeri Padangsidimpuan, Sumatera Utara untuk segera meruntuhkan benteng impunitas yang diduga kuat telah melindungi praktik korupsi sistematis di Dinas Pendidikan Kota Padangsidimpuan selama bertahun-tahun.

Ini bukan sekadar keluhan birokrasi biasa. Ini adalah deklamasi perang melawan dugaan kejahatan terencana yang telah merampas masa depan generasi muda sejak hari pertama sang Kepala Dinas menduduki kursinya.

Baca Juga: Skandal Rp280 Miliar Indodax: Remaja 20 Tahun Jadi Kambing Hitam Keamanan Siber yang Bobrok?

Ruang Kelas atau Ruang Penyiksaan? Kontras Ngeri Anggaran Ratusan Miliar

Di atas kertas lembar daerah, angka-angka anggaran pendidikan menari-nari dengan gagah—menyerap hingga sepertiga dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Namun, realita di lapangan adalah tamparan keras bagi kemanusiaan.

"Setiap pagi hati saya hancur. Atap sekolah bocor parah hingga ruang kelas berubah jadi kolam ember saat hujan. Dindingnya retak besar seolah bersiap rubuh kapan saja, lantai tanah yang becek, jendela bolong, hingga meja-kursi yang lapuk," ucap orang tua AlG dengan suara bergetar menahan amarah yang memuncak.

Ia mempertanyakan ke mana raibnya dana ratusan miliar rupiah yang setiap tahun diklaim cair 100% dengan laporan administrasi yang "bersih dan rapi". Laporan resmi dinas menyebutkan fasilitas lengkap terpasang, namun di dunia nyata, ribuan anak dipaksa bertaruh nyawa di dalam bangunan sekolah yang menyerupai puing-puing sisa perang.

Lima Dosa Sistematis: Membongkar Modus Gurita Korupsi

Pernyataan berani orang tua AlG seolah membuka kotak pandora yang selama ini tersimpan rapat di kalangan guru dan komite sekolah. Investigasi berbasis data lapangan mengarah pada lima dugaan korupsi yang terstruktur, sistematis, dan masif (TSM):

Baca Juga: Menginstal Telegram Bukan Mentransfer 300 Miliar! Wa Ode Bongkar Bobroknya Sistem Indodax yang Tumbalkan Karyawan Kecil

  1. Ladang Keuntungan: Proyek fiktif, mark-up gila-gilaan, dan pemotongan dana bertingkat sejak awal pimpinan menjabat. (Anggaran besar menyusut drastis sebelum menyentuh sekolah).
  2. Rekayasa Laporan: Pemalsuan bukti foto, tanda tangan, dan berita acara serah terima bahkan sebelum proyek dikerjakan. (Laporan di atas kertas 100 persen selesai, di lapangan bangunan tetap hancur).
  3. Tender Sandiwara: Lelang formalitas yang pemenangnya telah diatur khusus untuk kelompok dan rekanan dekat. (Pengadaan barang kualitas terendah dengan harga selangit).
  4. Bungkam dan Intimidasi: Pelapor, guru, atau komite yang kritis ditekan, diancam, atau dimutasi secara sepihak. (Munculnya dugaan jaringan pelindung (backing) dari oknum berwenang lebih tinggi).
  5. Egoisme Pejabat: Anggaran dinas seperti perjalanan dinas dan rapat hotel mewah terus melonjak tajam. (Hak dasar siswa (perbaikan atap/buku) dikorbankan demi kenyamanan birokrat).

Aliansi Masyarakat Bergerak: 6 Tuntutan Mutlak untuk Kejaksaan

Merespons situasi yang sudah masuk dalam taraf "Darurat Pendidikan" ini, elemen masyarakat bersama orang tua murid melayangkan 6 Maklumat Tegas yang wajib segera dieksekusi oleh Kejaksaan Negeri Padangsidimpuan:

Baca Juga: Wamentan Sudaryono Lantik Wagub Nyanyang Haris, HKTI Kepri Siap Gebrak Sektor Agraris Perbatasan!

  1. Panggil dan Periksa Tanpa Pandang Bulu: Seret Kepala Dinas Pendidikan beserta seluruh kroni keuangan dan perencanaan proyek dari tahun pertama menjabat hingga detik ini ke ruang pemeriksaan.

  2. Sita dan Audit Total: Sita seluruh dokumen rencana anggaran, berkas lelang, kontrak, hingga aliran rekening koran demi mendeteksi aliran dana fiktif.

  3. Inpeksi Mendadak (Sidak) Fisik: Jaksa harus turun ke lapangan, melihat langsung kontrasnya laporan di kertas dengan realita hancurnya sekolah.

Halaman:

Tags

Terkini