NAWACITAPOST.COM — Impian memiliki kendaraan ramah lingkungan dengan harga terjangkau berujung pada rasa kecewa dan kerugian material bagi seorang konsumen di Jabodetabek.
Kasus dugaan penipuan pembelian mobil listrik merek Henan Henrey kini tengah menjadi sorotan tajam di ruang publik setelah korban membagikan pengalaman pahitnya yakni dugaan penipuan di media sosial.
Melalui akun pribadinya, korban menceritakan awal mula insiden yang merugikannya saat mendatangi sebuah pameran otomotif di pusat perbelanjaan.
Baca Juga: Update: Ferry Irwandi Datangi Mobil Misterius Diduga Penguntit, Aksinya Berlangsung Dramatis
"Ada yang punya pengalaman serupa? Waktu itu jalan-jalan di mal besar di Bekasi, lalu ada event mobil lah disitu. Singkat cerita, SPK lah karena promo menarik dapat powerbank 5000 kWh. Dan ya namanya mobil listriknya kecil termasuk murah pada saat itu." tulis pemilik akun Threads @kurniawanzxz_ dikutip Selasa 6 Oktober 2026.
Cerita tersebut bermula dari kunjungan korban ke pameran tersebut. Ia tergiur dengan penawaran harga promosi yang sangat miring dan jauh di bawah pasaran umum untuk kendaraan listrik.
Dalam skema penawaran menarik itu, mobil listrik Henan Henrey dibanderol dengan harga khusus sekitar Rp99 juta saja.
Angka tersebut diklaim sebagai promo eksklusif untuk pembeli pertama, jauh dari harga normal yang semestinya berada di kisaran Rp168 juta, ditambah bonus menarik berupa power bank berkapasitas besar.
Tergiur dengan iming-iming promo terbatas tersebut, korban akhirnya memutuskan untuk melakukan pemesanan unit dengan menyetorkan uang muka atau down payment (DP) sebesar 50 persen dari total harga promo, atau setara dengan kurang lebih Rp50 juta.
Namun, janji manis fasilitas dan unit kendaraan murah tersebut berbanding terbalik dengan realita yang dihadapi korban di lapangan.
"Setelah beberapa bulan, janji datang di Oktober 2025, mobil tersebut tidak datang juga. Ternyata scam guys, mereka pameran di beberapa mal besar di Jakarta, kasihan juga nih kita sebagai konsumen tidak ada kejelasan." tulisnya lagi.
Berdasarkan perjanjian awal, unit kendaraan dijanjikan tiba pada September hingga Oktober 2025. Akan tetapi, hingga memasuki bulan Januari 2026, mobil impian yang dinanti-nanti tak kunjung datang.
Situasi bertambah runyam ketika korban mencoba menanyakan kejelasan, namun mendapati bahwa tenaga penjual atau sales yang dahulu mengurus transaksinya sudah tidak lagi bekerja di tempat dealer tersebut.
Kecurigaan korban kian memuncak ketika ia mendatangi kantor dealer yang menaungi transaksi penjualan tersebut, yakni PT Evolution Car.
Alih-alih mendapatkan penjelasan, ia justru mendapati bahwa kantor operasional dealer tersebut sudah tutup total dan tidak lagi beroperasi.
Penelusuran lebih lanjut menunjukkan adanya indikasi dan laporan serupa dari sejumlah korban lain yang mengalami kerugian dengan modus operandi mirip, meskipun total akumulasi kerugian secara keseluruhan masih belum dapat diverifikasi secara valid.
Di sisi lain, fakta menarik terungkap mengenai identitas kendaraan tersebut. Berdasarkan penelusuran, merek Henrey bukanlah entitas fiktif belaka.
Di kancah industri otomotif global, memang terdapat lini kendaraan listrik dengan merek HENREY yang diproduksi oleh produsen asal Tiongkok, yaitu Henan Henrey Automobile Technology Co.Ltd.
Dengan demikian, kontroversi yang terjadi di Indonesia bukan terletak pada keaslian produknya, melainkan lebih mengarah pada persoalan rantai distribusi, tata kelola proses penjualan, serta aspek legalitas dari pihak-pihak yang menawarkan kendaraan tersebut kepada masyarakat luas.
Kasus ini menjadi peringatan keras bagi seluruh lapisan masyarakat agar senantiasa meningkatkan kewaspadaan saat membeli kendaraan listrik.
Konsumen diimbau untuk tidak mudah terlena oleh iming-iming harga kendaraan yang terlampau murah, terutama ketika bertransaksi dengan pihak dealer independen atau tenaga penjual yang rekam jejaknya belum teruji secara resmi.
Hingga berita ini diturunkan pada Selasa, 6 Oktober 2026, media masih terus berupaya menghubungi pemilik akun yang bersangkutan guna meminta konfirmasi, tanggapan, serta keterangan lebih mendalam terkait perkembangan kasus yang dialaminya.