Jumat, 9 Oktober 2026

Ancaman Nyata Ban Motor Kempis: Dari Bahaya Fatal Hingga Bensin Kian Boros

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Jumat, 9 Oktober 2026 | 21:04 WIB
Pentingnya cek tekanan angin ban.  (Foto: NKRI24JAM)
Pentingnya cek tekanan angin ban. (Foto: NKRI24JAM)

NAWACITAPOST.COM — Aktivitas sederhana seperti mengecek tekanan angin ban motor kerap kali dipandang sebelah mata oleh sebagian besar pengendara. Banyak orang baru tergerak menuju tempat pengisian angin saat wujud fisik roda kendaraan sudah terlihat benar-benar kempis.
 
Padahal, membiarkan tekanan udara roda di bawah standar ideal secara perlahan menyimpan serangkaian ancaman serius yang mengintai keselamatan, kenyamanan berkendara, hingga efisiensi finansial pemiliknya dikarenakan bensin yang boros.

Fenomena kepedulian pengendara yang terbilang masih rendah ini menjadi perhatian serius produsen otomotif roda dua. Edukasi mengenai krusialnya menjaga keselarasan tekanan udara ban pun terus disuarakan guna mencegah risiko bahaya di jalan raya.
 

"tekanan angin merupakan salah satu faktor penting yang menentukan bagaimana ban bekerja ketika bersentuhan dengan permukaan jalan. Karena itu, tekanan ban tidak seharusnya hanya diisi berdasarkan perkiraan atau sekadar terasa keras," tulis Yamaha Indonesia Jumat (9/10/2026).

Efek dominasi dari kelalaian menjaga kondisi angin ini berdampak sistematis pada performa motor. Dampak langsung pertama yang paling cepat dirasakan pengemudi adalah kemudi terasa kaku dan berat.

"Jika dibiarkan, perubahan karakter tersebut tentu bisa mengurangi kenyamanan, terutama ketika motor digunakan untuk bermanuver di lalu lintas padat," jelas Yamaha Indonesia.

Secara teknis, tekanan udara rendah memaksa bidang kontak karet ban memekar secara tidak wajar di atas aspal. Pembesaran area gesek ini memicu peningkatan hambatan gelinding (rolling resistance), yang secara otomatis memaksa daya kerja mesin bekerja jauh lebih keras.
 
 
Akibat siklus mekanis tersebut, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) akan melonjak tajam dari batas efisiensi normal. Kerugian finansial pengendara kian berlipat akibat pola keausan ban yang tidak merata.
 
Sisi bahu atau pinggir ban menjadi area yang paling cepat terkikis dan menipis. Dalam kurun waktu singkat, usia pakai komponen penunjang utama roda ini akan berkurang drastis, sehingga memaksa pemilik kendaraan merogoh kocek lebih awal untuk penggantian unit baru.

Dari kacamata keselamatan fisik, kondisi ban yang kekurangan angin memicu akumulasi panas berlebih (overheating) akibat gesekan intensif, terutama saat kendaraan dipacu dalam kecepatan tinggi atau menempuh perjalanan jarak jauh.
 
Ban yang terlalu panas dalam kondisi kurang angin berada pada tingkat kerentanan tertinggi saat melindas lubang atau jalanan tidak rata, yang berpotensi memicu kerusakan fatal pada struktur ban hingga pelek.
 

Untuk menghindari berbagai bahaya laten tersebut, pengguna kendaraan diimbau memahami tata cara pengukuran yang benar:

  • Patuhi Rekomendasi Pabrikan: Setiap model motor memiliki ukuran ideal tersendiri. Sebagai gambaran umum, tipe matik dan bebek memerlukan tekanan 29–30 psi untuk ban depan serta 31–33 psi untuk ban belakang.
  • Ukur Saat Suhu Dingin: Pengecekan wajib dilakukan sebelum motor dipakai atau setelah berhenti lama. Pengukuran pada ban yang panas akan menghasilkan angka yang lebih tinggi dari kondisi riil akibat pemuaian udara.
  • Gunakan Alat Ukur Presisi: Pengukuran tidak boleh hanya mengandalkan perkiraan visual mata. Gunakan tire pressure gauge sekurang-kurangnya satu minggu sekali atau sebelum bepergian jarak jauh.
  • Deteksi Dini Kebocoran: Jika tekanan terus merosot pascapengisian, pengendara disarankan segera memeriksa kondisi pentil dan bagian roda di bengkel resmi guna memastikan tidak ada kebocoran halus.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Tiarsin

Tags

Artikel Terkait

Terkini