novel

Mengambil Hikmah Perjuangan Kader NU Ketika Di PPP

Selasa, 27 Agustus 2024 | 06:00 WIB
Logo Nahdlatul Ulama (NU) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) (Foto Sakera Nawacita)

NAWACITAPOST.COM - Perjuangan politik kader Nahdlatul Ulama (NU) Nganjuk terhebat adalah ketika NU gabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Potret buruk pemerintahan orde baru menimpa pada partai non pemerintah, yang pada waktu itu salah satunya adalah PPP. PPP Nganjuk pernah memiliki 7 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Nganjuk.

Sebuah potensi yang sangat besar, maka kebesaran saat itu meninggalkan kisah perjuangan yang patut kita jadikan tauladan antara lain sebagai berikut:

Baca Juga: Rahasia Hati Bahagia Dengan Memperhatikan Apa yang Kamu Makan

1. Saat PPP Nganjuk memiliki kursi 7 dimana semua kader NU yang menjadi anggota DPRD "sami'na wa atho'na" atau "kami dengar dan patuh" pada masyayikh hebat kita yaitu Mbah Kiai Chayatuddin Rozi, Mbah Kiai Sholeh Abdul Hamid barat Pasar Wage, dan Mbah Kiai Soleh Hamid Sekarputih. Para kiai sepuh tersebut memang waskito sebagaimana kita ketahui bersama. Pernah ada cerita antar kader rebutan jadi pimpinan DPRD, namun setelah para masyayikh minta semua gaji dimasukkan partai semua, perebutan pimpinan DPRD tidak terjadi lagi.

HM Basori M.Si penulis Artikel (Foto Istimewa)

2. NU Nganjuk pernah memiliki seorang kader politik hebat yaitu Bapak Bahtiar Setiono. Beliau seorang konseptor ulung yang menjadi anggota DPR RI. Bahtiar Setiono Muda adalah macan podium yang keberaniannya luar biasa. Maka ketika masih hidup gagasan cerdas dan revolusioner begitu memukau. Pak Bahtiar Setiono melahirkan putra hebat yang juga politisi yaitu H Cholis Ali Fahmi, SE, M.Sc yang juga mantan Ketua DPRD Nganjuk. Satu hal yang patut kita tiru dari seorang Cholis Ali Fahmi adalah setiap ketemu kiai pasti ngasih uang, apa yang dilakukan adalah pesan mulia dari abahnya (Bahtiar Setiono red).

Baca Juga: Musaffa Safril Calon Ketua Ansor Jawa Timur, Mengusung Tripoin SBH Untuk Ansor Jawa Timur Lebih Maju

3. NU Nganjuk memiliki politik kader hebat lagi yaitu H Amin Fauzi. Beliau seorang kader NU yang menjadi ketua PPP pada saat itu, namun tidak mau menjadi anggota DPRD. Perjalanan politik H Amin Fauzi selalu meminta petunjuk dan melaksanakan perintah Mbah Kiai Chayatuddin Rozi, Mbah Kiai Soleh Hamid barat Pasar Wage dan Mbah Kiai Soleh Hamid Sekarputih, adalah bukti tawadhunya kader NU pada masyayikh. Seluruh potensi kader NU yang berpolitik saat itu, total berjuang untuk kebesaran NU dalam kondisi yang serba sulit. Kerasnya politik orde baru, kader NU biasa keluar masuk penjara dengan alasan politik. Namun saat ada yang dipenjara entah di Kodim, di Polres atau di Rutan semua kebutuhan keluarga ditanggung oleh para politisi. Begitu besarnya perhatian politisi dalam memikirkan pendukungnya!!

4. Kader NU yang dipolitik saat itu memang seorang pejuang dan orang yang memiliki militansi luar biasa. Maka sudut pandang kekuasaan dan uang belum menjadi acuan utama. Setiap problem politik akan selesai dengan perintah dan tausiyah para masyayikh tersebut. Kehebatan masyayikh memang jauh berbeda dengan sekarang, karena mereka orang-orang ‘alim yang memiliki karomah luar biasa.

Baca Juga: Banggalah Jadi Bagian dari NU, Jangan Pernah Menjadi Kader Pengecut

5. Kita memiliki KH Gufron Majid dan KH Saiful Islam, seorang pejuang NU yang berjuang membangun masyarakat di wilangan. Kita punya Kiai Said suami Siti Fatimah Said (ayahanda Sahabat Anam Beni) kita punya KH Afandi Cengkok ayahanda Abah Hasyim Afandi, KH Nahrowi, HM Djaelani Ishaq dan masih banyak lagi yang lainnya. Catatan penting dari beliau semua adalah kader NU yang berjuang untuk kebesaran NU baik fikiran maupun harta bendanya. Contoh bagaimana menjaga eksistensi SMA Diponegoro pada waktu itu, beliau menjual apa yang dimiliki untuk membayar guru-guru, abah KH Affandi penyokong dana pembangunan Lembaga Al Khidmah Ngronggot dan masih banyak lagi yang lainnya. Karena keikhlasan dan tawadhunya sama kiai, kemuliaan beliau semua masih terasa hingga sekarang. Mereka memang tidak kaya atau menumpuk harta, tapi ruh perjuangannya benar-benar kita rasakan.

6. Para masyayikh pendahulu kita membagi peran kader untuk membangun Islam dengan penuh perjuangan, bahkan Mbah Kiai Chayatuddin selalu bilang, kalau tidak jadi pegawai apa tidak bisa makan, ternyata Allah memberikan kemuliaan lain seperti contoh jadi Wakil Bupati atau keluarganya jadi anggota DPRD. Begitulah rahasia Allah yang diberikan pada pejuang agama Allah khususnya kader NU Nganjuk saat itu.

Baca Juga: Mewaspadai Oportunis Politik dalam Pilkada 2024

7. Para pejabat kita dulu yang selalu dinaungi oleh para kiai dan masyayikh. Pejabat kita dulu juga orang yang ahli tirakat dan mendapat bimbingan rohani langsung dari para kiai dan masyayikh. Maka tidak heran jika mereka terhindar dari keserakahan dan selalu memiliki keikhlasan karena ingin hidupnya barokah.

Halaman:

Tags

Terkini

Mengambil Hikmah Perjuangan Kader NU Ketika Di PPP

Selasa, 27 Agustus 2024 | 06:00 WIB

Makna Strategis Elektabilitas Dalam Pilkada Tahun 2024

Selasa, 13 Agustus 2024 | 15:47 WIB

Pentingnya Memahami Rekam Jejak Kandidat Bupati

Minggu, 11 Agustus 2024 | 20:27 WIB

Jangan Jadikan Uang Jadi Tuhanmu

Jumat, 9 Agustus 2024 | 08:43 WIB

Mewaspadai Oportunis Politik dalam Pilkada 2024

Kamis, 8 Agustus 2024 | 20:22 WIB