NAWACITAPOST.COM - Ketua Satuan Tugas Perumahan, Hashim Djojohadikusumo, mengungkapkan bahwa sekitar 150 juta warga Indonesia masih tinggal di Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa 150 juta orang ini terdiri dari sekitar 37 juta keluarga, dengan rata-rata setiap rumah dihuni oleh 4-5 orang.
"Ada kurang lebih 37 juta rakyat kita yang belum memiliki atau menghuni rumah layak huni. Namanya RTLH. Ini besar sekali, ini 150 juta jiwa kan, satu keluarga 4-5 orang," papar Hashim.
Hashim menekankan bahwa situasi ini memerlukan perhatian khusus dan mendesak, karena begitu banyak masyarakat yang belum dapat mengakses hunian yang layak. Menanggapi kondisi ini, Presiden Prabowo Subianto mencanangkan program ambisius untuk membangun tiga juta unit rumah yang diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Program pembangunan tiga juta rumah yang dicanangkan ini terdiri dari dua juta rumah di wilayah perdesaan dan satu juta rumah berupa hunian vertikal di perkotaan. Hashim menjelaskan, kebijakan ini tidak hanya bertujuan menyediakan tempat tinggal yang memadai bagi masyarakat, tetapi juga sebagai langkah untuk memperbaiki taraf hidup dan meningkatkan akses masyarakat terhadap hunian yang layak.
Baca Juga: Bumi Serpong Damai (BSDE) Catat Laba Bersih Rp 2,7 Triliun di Kuartal III-2024
Hunian yang layak diyakini mampu memberikan dampak positif terhadap kesehatan, pendidikan, dan produktivitas keluarga. Menurut Hashim, pembangunan rumah di perdesaan diharapkan dapat membantu masyarakat yang berada di wilayah pelosok untuk memiliki akses lebih baik terhadap infrastruktur dasar, seperti air bersih, listrik, dan sanitasi.
Sementara itu, di kawasan perkotaan, pembangunan hunian vertikal diyakini sebagai solusi efektif menghadapi keterbatasan lahan. Hashim menambahkan bahwa sektor perumahan memainkan peran penting dalam perekonomian nasional, terutama dalam menciptakan lapangan kerja baru.
Program pembangunan perumahan ini digadang-gadang sebagai sektor padat karya yang dapat mengurangi dampak pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai industri. Di tengah tantangan ekonomi, termasuk ancaman PHK seperti yang baru-baru ini terjadi di perusahaan besar seperti Sritex, sektor konstruksi dan perumahan diyakini mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
“Sektor perumahan ini sangat padat karya dan dapat menciptakan jutaan lapangan pekerjaan baru,” ujar Hashim.