Kamis, 4 Juni 2026

Pendapatan Garuda Indonesia Naik, Tapi Rugi Catat Rugi Rp 2 Triliun pada Kuartal III/2024

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Jumat, 1 November 2024 | 08:55 WIB
Garuda Indonesia. (X)
Garuda Indonesia. (X)

 

NAWACITAPOST.COM - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA), tengah menghadapi tantangan besar di tengah pemulihan pascapandemi. Meski pendapatan terus meningkat, perusahaan masih mencatatkan kerugian pada kuartal III/2024, sebesar US$131,22 juta atau sekitar Rp2 triliun.

Menurut laporan keuangan per 30 September 2024, pendapatan usaha GIAA mencapai US$2,56 miliar sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini, meningkat 15% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencatatkan pendapatan sebesar US$2,23 miliar. Segmen penerbangan berjadwal menjadi kontributor utama pendapatan Garuda dengan nilai US$2,01 miliar, naik 17% secara tahunan.

Penerbangan tidak berjadwal juga menunjukkan peningkatan, dengan pendapatan sebesar US$291,15 juta atau naik 6% YoY. Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, mengatakan bahwa kenaikan pendapatan usaha sepanjang Januari-September 2024 merefleksikan angkutan penumpang perusahaan yang mencapai 17,73 juta atau meningkat 24% secara tahunan.

Baca Juga: Kinerja Cemerlang, Laba PT Pakuwon Jati Tumbuh 14,7 Persen di Triwulan III 2024  

"Hal tersebut dikontribusikan dari angkutan Garuda Indonesia sebesar 8,34 juta penumpang atau meningkat sebesar 45%, sementara Citilink sebanyak 9,39 juta penumpang naik 10%," jelas Irfan.

Hal ini menunjukkan pemulihan minat masyarakat terhadap perjalanan udara setelah melewati fase pandemi. Namun, di tengah peningkatan pendapatan, beban operasional GIAA turut membengkak menjadi US$2,38 miliar, naik dari tahun sebelumnya yang mencatatkan beban sebesar US$1,99 miliar.

Menurut Irfan, kenaikan biaya ini dipicu oleh berbagai faktor seperti biaya perawatan dan perbaikan pesawat, biaya pelayanan penumpang, serta biaya operasional di bandara. Lonjakan ini disinyalir menjadi penghambat utama dalam perbaikan profitabilitas Garuda.

Irfan juga menyampaikan bahwa meskipun ada tantangan, Garuda akan terus fokus pada penguatan indikator kinerja finansial. Salah satu capaian positif adalah kenaikan EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization) sebesar 11% YoY, mencapai US$685,81 juta. Kenaikan ini menjadi sinyal positif bahwa perusahaan mampu menjaga stabilitas arus kas operasionalnya di tengah tekanan beban usaha.

Baca Juga: PT Summarecon Agung Rilis Proyek Baru Summarecon Tangerang  

Selain tantangan operasional, Garuda Indonesia juga akan mengalami perubahan pada struktur manajemennya. Kementerian BUMN di bawah pimpinan Erick Thohir telah mengajukan perubahan susunan pengurus Garuda Indonesia dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan berlangsung pada 15 November 2024 di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang.

Agenda ini disampaikan oleh Direksi GIAA dalam keterbukaan informasi pada Kamis, 31 Oktober 2024, sebagai upaya memperkuat kepemimpinan perusahaan. Sebelumnya, pada RUPSLB yang digelar 15 Agustus 2024, pemegang saham memutuskan untuk mengangkat Mayor Jenderal TNI (Purn.) Glenny Kairupan sebagai Komisaris.

Perubahan susunan pengurus kali ini diharapkan dapat membantu perusahaan menghadapi tantangan besar di tengah upaya pemulihan dan penguatan kinerja di pasar domestik maupun internasional. Sebagai maskapai nasional, Garuda Indonesia masih berusaha mempertahankan momentum pemulihan sembari menghadapi kenaikan biaya operasional.

 

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini