NAWACITAPOST.COM - Dalam sebuah diskusi hangat yang diselenggarakan di salah satu kediaman tokoh Betawi, Heikal Hasan dan Muhammad Rifki yang akrab disapa Eki Pitung berbincang mengenai sejarah dan nasib masyarakat Betawi dalam konteks kepemimpinan di Jakarta. Percakapan ini menarik perhatian banyak pihak karena menyoroti perjalanan sejarah serta dinamika sosial yang ada di ibu kota.
Sejak era Orde Baru (Orba) pada tahun 1966 hingga era reformasi pasca-2007, DKI Jakarta selalu dipimpin oleh gubernur yang berlatar belakang militer, baik dari TNI Angkatan Darat maupun TNI Angkatan Laut. Heikal Hasan mencatat bahwa dari enam gubernur tersebut, mereka berasal dari berbagai etnis yang berbeda. Ada yang beretnis Manado, Jawa, Sunda, Banten, Betawi, Arab, hingga Batak.
Namun, dari sekian banyaknya pemimpin di Jakarta, hanya Fauzi Bowo yang berdarah Betawi. Pria yang akrab disapa Foke ini adalah putra dari pasangan Djohari Adiputro Bowo asal Jawa Timur dan Nuraini binti Abdul Manaf asal Jakarta. Foke, dengan darah Jawa-Betawi, menjadi satu-satunya gubernur yang benar-benar mewakili masyarakat Betawi.
Eki Pitung kemudian melanjutkan percakapan dengan menyoroti masalah tanah yang kerap menjadi isu utama bagi masyarakat Betawi. "Hai anak Betawi ketinggalan jaman katanya ye, minta tanah kita jangan digusur lagi," ujarnya.
Baca Juga: Kecewa dengan Vonis Bebas Ronald Tannur, Keluarga Dini Sera Afriyanti Bakal Ajukan Banding
Dia menekankan bahwa sudah cukup banyak pusat perbelanjaan seperti mal dan department store yang menggusur tanah-tanah milik masyarakat Betawi. Eki juga menyoroti ketidakadilan yang dirasakan oleh masyarakat Betawi dalam konteks kepemimpinan daerah.
Dia memberikan contoh bahwa di daerah lain seperti Aceh dan Papua, hanya orang asli daerah tersebut yang bisa maju sebagai pemimpin. Namun di Jakarta, meskipun masyarakat Betawi adalah penduduk asli, mereka kerap kali terpinggirkan dan tidak mendapatkan kesempatan yang sama.
Heikal Hasan menambahkan bahwa status Jakarta sebagai daerah khusus ibu kota (DKI) sering kali hanya sebatas nama tanpa memberikan keistimewaan yang nyata bagi warganya, terutama masyarakat Betawi. "Jakarta tidak pernah dijadikan istimewa, cuma khusus doang," ungkapnya.
Menurutnya, hal ini berbeda dengan Daerah Istimewa Yogyakarta yang memiliki hak-hak khusus bagi penduduk aslinya. Heikal juga menyoroti kondisi rumah-rumah di Jakarta yang semakin doyong dan banyak yang sudah tidak layak huni. Dia merasa prihatin dengan banyaknya orang Betawi yang terpaksa menjual tanah mereka dan pindah ke luar Jakarta karena tekanan ekonomi.
Baca Juga: BPOM Ungkap Rahasia Ketahanan Roti Aoka Hingga Berbulan-bulan
Dalam perbincangan tersebut, muncul pula isu toleransi beragama dan ekonomi. Heikal menilai bahwa toleransi sering kali hanya diartikan sebatas ucapan selamat pada hari raya, tanpa menyentuh aspek ekonomi. "Toleransi ekonomi ada apa kagak?" tanyanya retoris.
Banyak orang Betawi yang akhirnya menjual tanah mereka dan pindah keluar Jakarta. Eki menambahkan bahwa masyarakat Betawi sering kali terpaksa menjual tanah karena kebutuhan ekonomi mendesak, seperti biaya pendidikan anak atau ibadah haji.
"Namun ujung-ujungnya dipaksa dengan keadaan susah, paling ujungnya buat nyunatin anaknya atau biaya sekolah," jelasnya.
Menurut Heikal dan Eki, ada permasalahan mendasar dalam masyarakat Betawi yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah kecenderungan untuk mencari uang tanpa mau berusaha keras.