Pertumbuhan aset tersebut terutama ditopang peningkatan kredit dan pembiayaan sebesar 16,2 persen yoy menjadi Rp1.646 triliun.
Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp1.581 triliun, atau tumbuh 6,7 persen yoy. Pendapatan bunga bersih atau net interest income juga meningkat 9,9 persen dari Rp73,3 triliun menjadi Rp80,5 triliun.
Pre-Provision Operating Profit (PPOP) BRI tercatat mencapai Rp65,7 triliun, tumbuh 12,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Capaian tersebut menunjukkan bahwa transformasi mulai kami konversikan menjadi kinerja. Bagi kami, yang terpenting bukan hanya seberapa cepat BRI bertumbuh, tetapi bagaimana pertumbuhan tersebut dihasilkan dari fundamental yang semakin sehat dan pada saat bersamaan memberikan manfaat yang semakin luas bagi perekonomian,” tutur Hery.
Fundamental dan Kualitas Aset Semakin Sehat
Pertumbuhan laba BRI juga dibarengi dengan perbaikan sejumlah indikator fundamental.
Secara bank only, biaya dana atau Cost of Fund (CoF) turun dari 3,0 persen pada Triwulan II 2025 menjadi 2,4 persen pada periode yang sama tahun 2026.
Efisiensi operasional juga membaik. Cost to Income Ratio (CIR) turun dari 41,9 persen menjadi 39,2 persen.
Dari sisi kualitas aset, rasio Non-Performing Loan (NPL) turun dari 3,0 persen menjadi 2,9 persen. Sementara Cost of Credit (CoC) membaik dari 3,4 persen menjadi 3,1 persen.
Perbaikan fundamental tersebut turut mendukung kemampuan BRI dalam menghasilkan imbal hasil. Return on Asset (ROA) tetap berada di kisaran 2,7 persen, sedangkan Return on Equity (ROE) meningkat dari 16,6 persen pada Triwulan II 2025 menjadi 18,8 persen pada Triwulan II 2026.
“Berbagai indikator tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan yang kami capai semakin berkualitas. Funding semakin efisien, efisiensi operasional membaik, kualitas aset semakin sehat, dan kemampuan BRI dalam menghasilkan return juga semakin kuat,” ujar Hery.
Kredit UMKM Capai Rp1.235,4 Triliun
Meski terus melakukan diversifikasi bisnis, BRI tetap mempertahankan UMKM sebagai fondasi utama perseroan.
Hingga akhir Triwulan II 2026, kredit yang disalurkan kepada segmen UMKM mencapai Rp1.235,4 triliun, tumbuh 8,6 persen yoy. Nilai tersebut setara dengan sekitar 75,1 persen dari total portofolio kredit dan pembiayaan BRI Group.
Menurut Hery, besarnya porsi pembiayaan UMKM menunjukkan bahwa diversifikasi sumber pertumbuhan tidak mengubah karakter utama BRI sebagai bank yang tumbuh bersama ekonomi kerakyatan.
Penguatan segmen konsumer, small-medium-commercial, korporasi, serta pengembangan new core dilakukan untuk menciptakan struktur bisnis yang lebih beragam, sementara UMKM tetap menjadi fondasi utama.
“BRI tetap konsisten menjadikan UMKM sebagai core business. Kami percaya pertumbuhan BRI harus berjalan beriringan dengan pertumbuhan pelaku usaha dan aktivitas ekonomi masyarakat,” katanya.