nasional

Muktamar ke-35 NU Mulai Rancang Masa Depan: Lima Tahap Menuju “NU Digdaya 2050

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 23:45 WIB

Jombang, Nawacitapost.com – Nahdlatul Ulama (NU) mulai menyusun langkah besar untuk menatap masa depan organisasi hingga seperempat abad mendatang. Gagasan tersebut dibahas dalam Sidang Komisi Program Muktamar ke-35 NU yang digelar di Gedung Institut Agama Islam Bani Fattah, Tambakberas, Jombang, sabtu (29/8/2026).

Sidang Komisi Program menjadi salah satu ruang strategis untuk merumuskan arah perjalanan NU menghadapi perubahan zaman sekaligus menerjemahkan visi besar “NU Digdaya 2050” ke dalam tahapan program yang lebih konkret.

Ketua Komisi Program Muktamar ke-35 NU, Alissa Wahid, mengatakan pembahasan tersebut bukanlah gagasan yang muncul secara tiba-tiba. Peta Jalan NU menuju 2050 merupakan mandat yang telah dipersiapkan dan disahkan dalam Muktamar ke-34 NU di Lampung.

“Sebenarnya Peta Jalan NU adalah mandat yang telah dipersiapkan dan disahkan di Muktamar ke-34 NU. Sehingga, itulah yang membuat kita pada hari ini pembahasan terkait peta jalan NU para komisi program ini,” ujar Alissa.

Menurutnya, penyusunan peta jalan tersebut berangkat dari pembacaan terhadap berbagai perubahan yang sedang dan akan dihadapi NU. Organisasi perlu memiliki kerangka strategis agar mampu beradaptasi dengan perkembangan dunia sekaligus tetap menjaga nilai-nilai yang menjadi fondasi perjuangan NU.

“Di peta jalan ini setelah kita melihat konteks yang dihadapi NU, kemudian konteksnya seperti apa, dunianya seperti apa, sehingga membuat kita akhirnya punya sebuah skema, punya kerangka bahwa yang kita ingin wujudkan adalah NU berdaya 2050,” jelasnya.

Lima Tahap Menuju NU Digdaya

Untuk menerjemahkan visi tersebut, Komisi Program merumuskan perjalanan NU dalam lima tahapan utama. Masing-masing tahap memiliki fokus yang berbeda dan dirancang sebagai kesinambungan transformasi organisasi hingga 2050.

Tahap pertama, 2026–2030, adalah Transformasi Jam'iyah.
Lima tahun pertama diarahkan untuk melakukan pembenahan mendasar terhadap organisasi, sistem, maupun budaya kerja. Fondasi organisasi diharapkan menjadi lebih adaptif, modern dan memiliki daya saing dalam menghadapi perubahan.

Tahap kedua, 2031–2035, memasuki fase Akselerasi Transformasi.
Pada periode ini, hasil transformasi sebelumnya akan didorong agar dapat diimplementasikan secara lebih cepat. Penguatan kapasitas, inovasi serta perluasan program menjadi fokus untuk menciptakan dampak yang semakin luas bagi masyarakat.

Tahap ketiga, 2036–2040, merupakan fase Kemandirian Jam'iyah.
NU diarahkan semakin mandiri dalam mengelola sumber daya, menjalankan program dan mengambil keputusan. Kemandirian tersebut menjadi penting agar organisasi memiliki kemampuan menentukan arah dan strategi tanpa ketergantungan berlebihan kepada pihak eksternal.

Tahap keempat, 2041–2045, mengusung agenda Kepemimpinan Etik.
Pada fase ini NU ditargetkan semakin kuat sebagai rujukan kepemimpinan berbasis nilai dan etika. Peran tersebut tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga diharapkan mampu memberikan kontribusi strategis dalam percaturan internasional.

Tahap kelima, 2046–2050, diarahkan menuju Ekosistem Peradaban.
Pada tahap puncak tersebut, NU diharapkan telah memiliki ekosistem peradaban yang mapan melalui sistem yang terintegrasi dan berkelanjutan. Nilai, institusi serta praktik sosial diharapkan saling menguatkan sehingga mampu melahirkan peradaban yang maju.

PCNU Tak Lagi Berjalan Tanpa Arah

Alissa menegaskan, keberadaan peta jalan tersebut bukan sekadar dokumen perencanaan jangka panjang. Lebih dari itu, roadmap tersebut diharapkan menjadi panduan bagi struktur NU di berbagai tingkatan, termasuk Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), dalam menentukan program kerja.

Dengan adanya tahapan yang jelas, pengurus di daerah tidak harus terus-menerus memulai dari nol untuk menentukan agenda organisasi.

Halaman:

Tags

Terkini