Organisasi, menurut pandangan tersebut, tidak akan kuat hanya karena struktur dan program di tingkat pusat, tetapi karena terdapat warga yang bersedia mengambil bagian dalam kerja-kerja pengabdian.
Dengan demikian, menjadi pengurus NU bukan semata-mata memperoleh posisi dalam struktur. Kepengurusan dipahami sebagai kesempatan untuk memperluas kebaikan—dari diri sendiri, kepada jamaah, lalu kepada masyarakat.
Pengalaman Panjang di Berbagai Jenjang
Gagasan tersebut juga tidak berdiri di ruang kosong. Gus Rozin sendiri telah melalui perjalanan panjang dalam berbagai jenjang organisasi NU. Ia pernah menjadi Pengurus Pusat IPNU periode 1998–2001, Pengurus Pusat GP Ansor 2000–2004, Wakil Ketua LP Ma'arif PBNU 2010–2013, Ketua RMI NU Jawa Tengah 2013–2015, Ketua RMI PBNU 2015–2021, Mustasyar PCNU Kabupaten Pati 2019–2024, dan Katib Syuriah PBNU 2021–2023. Sejak 2024, ia dipercaya sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah untuk masa khidmah 2024–2029.
Lintasan tersebut mempertemukan Gus Rozin dengan berbagai wajah NU: kader muda, pesantren, lembaga pendidikan, pengurus cabang, pengurus wilayah, hingga struktur PBNU.
Pengalaman panjang itu pula yang membuat gagasan tentang khidmah dan proses menjadi baik bersama NU tidak sekadar menjadi narasi menjelang Muktamar.
Menjadi Baik, Kemudian Membuat NU Lebih Baik
Dalam perspektif ini, pertanyaan “mengapa seseorang mau mengurus NU?” memiliki jawaban yang berbeda dari logika organisasi pada umumnya. Bukan karena jabatan selalu menawarkan keuntungan material. Bukan pula karena menjadi pengurus berarti terbebas dari persoalan organisasi.
Sebaliknya, justru karena mengurus NU membutuhkan kesediaan untuk memberikan waktu, tenaga, pikiran, dan perhatian kepada jamaah. Di situlah konsep khidmah menemukan maknanya.
Seseorang masuk dalam kepengurusan NU untuk berusaha menjadi lebih baik, sementara pada saat yang sama berusaha membuat lingkungan di sekitarnya menjadi lebih baik.
Dari individu lahir jamaah. Dari jamaah terbentuk jam'iyah. Dan dari jam'iyah yang kuat diharapkan lahir manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Gagasan inilah yang ditawarkan Gus Rozin ketika berbicara tentang masa depan NU.
Membangun NU pada akhirnya bukan hanya pekerjaan memperbaiki organisasi, tetapi juga pekerjaan memperbaiki orang-orang yang menghidupinya.
Menjelang Muktamar ke-35 NU pada 27–31 Agustus 2026, gagasan tersebut menjadi salah satu perspektif dalam melihat kepemimpinan NU: bahwa memimpin organisasi tidak semata-mata tentang mengelola struktur dan program, tetapi juga tentang kesediaan untuk terus belajar, berkhidmah, dan menjadi baik bersama NU. ***