NAWACITAPOST.COM – Jerit histeris dan puing-puing besi menjadi saksi bisu tragedi berdarah yang kembali mengguncang bumi Lampung. Selisih antara hidup dan mati kini hanya dibatasi oleh selembar nasib di perlintasan kereta api. Pada Selasa (14/7/2026) pagi, sebuah Daihatsu Ayla yang membawa tiga pelajar SMP dihantam keras oleh Kereta Api (KA) Babaranjang di Desa Negeri Ratu, Kecamatan Sungkai Utara.
Dua nyawa muda, Siti Komariah (18) dan Ayu Fifita (14), meregang nyawa seketika di lokasi kejadian. Sementara sang sopir, Riki Farel (16), kini tengah berjuang melewati masa kritis di rumah sakit dengan luka berat.
Tragedi ini bukan sekadar kecelakaan lalu lintas biasa. Ini adalah alarm keras yang menelanjangi kegagalan infrastruktur keselamatan yang melibatkan dua aktor utama: PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai raksasa pemilik jalur, dan Gubernur Lampung, sang pemangku kebijakan tertinggi di daerah.
Ironi Pendapatan Rp12 Triliun vs Nyawa Rakyat yang "Murah"
Di balik air mata keluarga korban, tersimpan sebuah ironi yang menyayat hati. Berdasarkan data yang dihimpun, jalur rel Palembang–Lampung diproyeksikan meraup pendapatan fantastis menembus angka Rp12 triliun pada tahun 2026 dari sektor angkutan batu bara dan penumpang.
Namun, gemerlap angka triliunan rupiah tersebut seolah berbanding terbalik dengan potret keselamatan di lapangan. PT KAI dan pemerintah daerah terkesan menutup mata terhadap fakta mengerikan ini:
-
Terdapat 228 perlintasan kereta api di seluruh Lampung.
-
211 di antaranya adalah perlintasan sebidang yang rawan kecelakaan dan minim fasilitas keselamatan.
Padahal, UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan secara tegas mewajibkan setiap perlintasan sebidang dilengkapi fasilitas keselamatan yang murni memprioritaskan nyawa manusia—bukan sekadar tiang pembatas ringkih. Ketika negara maju seperti Jepang mampu memberikan palang pintu otomatis hingga untuk pejalan kaki, masyarakat Lampung justru harus bertaruh nyawa setiap kali menyeberang rel. Pembangunan flyover atau underpass di titik-titik padat kini bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kewajiban mutlak yang terus ditunda.
Baca Juga: 19 Tahun Pesawaran: Hilal Kemakmuran yang Redup di Tengah Boikot Politik dan Pusaran Korupsi
Gubernur Lampung Bungkam Seribu Bahasa di Tanah Kelahiran
Sorotan tajam kini mengarah langsung kepada Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal. Ironisnya, Sungkai Utara yang menjadi lokasi tragedi maut ini merupakan tanah kelahiran sang gubernur sendiri.
Saat dikonfirmasi oleh wartawan Media Nawacita Indonesia pada Jumat (17/7/2026) di sela-sela Peringatan HUT Kabupaten Pesawaran ke-19, Gubernur Lampung justru memilih bungkam seribu bahasa. Menggunakan dalih hendak menunaikan salat Jumat, ia berjalan cepat menghindari rentetan pertanyaan kritis terkait pembiaran infrastruktur maut ini.
"Ke mana larinya dana Corporate Social Responsibility (CSR) dan bagi hasil pendapatan muatan batu bara yang melimpah itu? Mengapa untuk membangun satu unit palang pintu seharga Rp300 juta saja rakyat harus membayar dengan nyawa?"
Tags
Terkini
Bupati Nias Barat Temui Wamen KP, Bidik Penguatan Kampung Nelayan dan Budidaya Perikanan
Jumat, 16 Oktober 2026 | 22:08 WIBImigrasi Indonesia Raih PNBP Rp 8,68 Triliun, Lampaui Target 2026 pada Pertengahan Oktober
Jumat, 16 Oktober 2026 | 10:17 WIBBank Mandiri Perluas Akses Investasi Emas Lewat ATM Emas Terintegrasi Livin’
Kamis, 15 Oktober 2026 | 21:14 WIBKunjungan Kerja Dr (H.C) Zulkifli Hasan Mentri Koordinator Bidang Pangan RI Di KDKMP Waru Sidoarjo
Kamis, 15 Oktober 2026 | 15:47 WIBSoal Pemekaran DOB, DPP HIMNI Tegaskan Realitas Fiskal dan Tolak Penggabungan Wilayah
Kamis, 15 Oktober 2026 | 14:38 WIBEksepsi Kandas, Perkara RSU Pratama Nias Masuk Babak Pembuktian
Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:14 WIBPerkuat Pengawasan Dana Desa, Pemcam Moro’o Gelar Evaluasi ADD, DD, dan BUMDes 2026
Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:00 WIBSabar Bali! Wayan Koster Garansi BBM Normal, Antrean SPBU Masih Melingkar
Rabu, 14 Oktober 2026 | 19:55 WIBImbas Kabut Asap Karhutla: Langit Palangka Raya Menguning Pekat dan Warga Kesusahan Bernapas
Rabu, 14 Oktober 2026 | 19:55 WIBPrahara Pengadaan Bencana: Sestama Kena OTT KPK, BNPB Janji Tak Intervensi
Rabu, 14 Oktober 2026 | 19:55 WIBOTT Bencana: KPK Bekuk Sestama BNPB dan Sita Rp1,4 Miliar Plus Emas Batangan
Rabu, 14 Oktober 2026 | 19:55 WIBDi Tengah Badai Ekonomi, Menteri Keuangan Suahasil Nazara Apresiasi Lonjakan Penerimaan Bea Cukai
Rabu, 14 Oktober 2026 | 06:02 WIBBaja Benteng Garda Depan: Bea Cukai Rangkul Civitas Akademika Lawan Kejahatan Lintas Perbatasan
Rabu, 14 Oktober 2026 | 06:02 WIBSokong Pertahanan Negara, Bea Cukai Tanjung Priok Kawal Pembebasan Bea Masuk Kapal Induk Giuseppe Garibaldi
Rabu, 14 Oktober 2026 | 06:02 WIBGempur Rokok Ilegal, Bea Cukai Morowali Amankan Belasan Ribu Batang Cukai Palsu
Rabu, 14 Oktober 2026 | 06:02 WIBBenteng Terakhir Hijau Nusantara: Presiden Prabowo Targetkan 70 Ribu Polisi Hutan Atasi Karhutla
Rabu, 14 Oktober 2026 | 06:02 WIBGuncang Istana, Rocky Gerung "Ditegur" Kepala Bakom Usai Desak Gibran Mundur
Rabu, 14 Oktober 2026 | 06:01 WIBGemuruh Sorak Pelajar Sambut Wawali Kota Bekasi Harris Bobihoe Saat Buka Avassco XI
Rabu, 14 Oktober 2026 | 06:01 WIBTri Adhianto Buka Jalan Investasi Beijing-Jiangsu, Kota Bekasi Menuju Pusat Ekonomi Digital
Rabu, 14 Oktober 2026 | 06:01 WIBLangit Jambi Mencekam: Asap Karhutla Memekat, ISPU Tembus Kategori Berbahaya 300
Selasa, 13 Oktober 2026 | 16:34 WIB