nasional

Menggali Kearifan Lokal di Sumut, Semua Suku Tolak Pelanggaran Etika dan Moral

Rabu, 31 Januari 2024 | 14:29 WIB
Pengamat politik Nusantara, Faigiziduhu Ndruru (MNI)

NAWACITAPOST.COM - Sumatera Utara (Sumut) adalah tanah yang subur dengan keberagaman suku dan budaya yang kaya. Salah satu aspek yang mencolok dari masyarakat suku di Sumatera Utara adalah kepedulian mereka terhadap etika dan moral yang tercermin dalam adat budaya mereka.

"Hanya dengan pemahaman dan penghargaan yang mendalam terhadap adat budaya, kekayaan ini dapat dilestarikan untuk dinikmati oleh generasi-generasi mendatang," ujar pengamat politik Nusantara Faigiziduhu Ndruru, Rabu (31/1/2024).

Beda daerah, beda budaya, dan hal ini sangat nyata di Pulau Nias. Di sini, membelakangi lawan bicara dianggap sangat tidak sopan, karena hal itu menunjukkan ketidakhormatan.

Baca Juga: Spanduk Penolakan Cawapres Gibran Ramaikan Kota Malang, Jawa Timur

Orang Nias sangat menghargai lawan bicara yang menghadap ke arah depan, menunjukkan perilaku saling menghormati. Pandangan yang tertuju pada gadget atau hal lain dianggap tidak sopan, karena di mata masyarakat Nias, itu menunjukkan ketidaksopanan.

Tak hanya dalam interaksi sehari-hari, dalam acara adat pun, Suku Nias tetap memegang teguh nilai-nilai penghormatan dengan sapaan dan penyuguhan sekapur sirih. Mereka menjunjung tinggi tradisi dan tetap menghormati setiap perbedaan yang menyatu dengan kehidupan mereka.

Suku Pakpak memiliki tradisi unik yang disebut 'Upacara Menerbeb.' Upacara ini dilakukan oleh kelompok individu atau keluarga inti dengan tujuan penghormatan dan permohonan doa restu dari orang tua atau tokoh-tokoh yang dihormati di daerah setempat. Dilaksanakan pada saat keadaan baik atau mendapat rejeki, upacara ini menjadi ekspresi syukur dan rasa terima kasih.

Baca Juga: Daftar 10 Kota Paling Intoleran di Indonesia, Nomor Satu Tetangga Jakarta

Uniknya, Upacara Menerbeb dilaksanakan secara diam-diam tanpa memberitahu pihak yang akan diberi makanan. Seolah-olah menjadi kejutan, upacara ini menunjukkan rasa kepedulian dan penghargaan kepada orang yang dihormati. Bahan-bahan yang disiapkan melibatkan pakaian, lauk pauk, dan makanan khas Suku Pakpak, seperti ikan binenem.

Suku Simalungun, Batak Toba, dan Batak Karo juga memiliki nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Suku Simalungun, yang mendiami Kabupaten Simalungun, memiliki kesamaan dengan suku Batak Toba dan Karo. Masyarakat Simalungun hidup dengan filosofi 'Habonaron do Bona'.

Baca Juga: Siap Lawan KKN, Ganjar Terima Dukungan dari Masyarakat Makassar

Filosofi ini menekankan pentingnya kebenaran dalam pemikiran, etika, moral, norma, dan agama. Mereka mengutamakan kebenaran sebagai landasan utama dalam menjalani kehidupan mereka sehari-hari.

Sementara itu, tradisi 'Mamboan Sipanganon tu Tulang' menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat suku Batak Toba, terutama yang berada di daerah Sihonongan Toruan, Kabupaten Humbang Hasundutan.

Halaman:

Tags

Terkini