Minggu, 19 Juli 2026

Terungkap! Bentuk Perundungan Ekstrem di PPDS: Dari Pelecehan hingga Pemerasan

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Selasa, 3 September 2024 | 17:17 WIB
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin

NAWACITAPOST.COM - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan adanya bentuk perundungan serius yang terjadi dalam Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) atau dokter residen di Indonesia.

Dalam keterangannya di Rumah Sakit Ngoerah, Denpasar, Bali, Senin lalu, Budi menyatakan bahwa perundungan tersebut tidak hanya bersifat fisik dan mental, tetapi juga melibatkan pelecehan seksual dan pemerasan finansial terhadap para peserta PPDS.

"Perundungan ini sudah sangat keterlaluan, para korban dirundung secara fisik dan mental, dan tidak jarang juga mengalami pelecehan seksual serta pemerasan uang," ungkap Budi, dikutip Selasa (3/9/2024).

Menteri Budi menegaskan bahwa praktik buruk di lingkungan pendidikan kedokteran ini tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun, termasuk dalih untuk membentuk ketangguhan mental para dokter. Ia menekankan bahwa pendidikan profesi lain seperti militer, kepolisian, dan pilot juga mengharuskan ketangguhan mental, namun tanpa melibatkan praktik perundungan.

Baca Juga: BSI Berikan Hadiah pada Veddriq Leonardo Senilai Rp1 Miliar

"TNI-Polri juga kurang tangguh apa ya? Pilot juga fisik harus tangguh, dan mereka bisa dilatih tanpa perundungan. Jadi tidak benar bahwa perundungan itu dipakai sebagai alasan untuk menciptakan tenaga-tenaga yang tangguh," kata dia.

Praktik perundungan dalam PPDS, menurut Budi, telah berlangsung selama puluhan tahun dan telah mengakar dalam tradisi pendidikan kedokteran. Hal ini diperparah oleh minimnya komitmen dari para pemangku kepentingan untuk menuntaskan masalah ini secara serius.

"Menurut saya ini sudah keterlaluan lah dan sudah saatnya praktik-praktik seperti ini tidak ada lagi di dunia pendidikan apalagi di spesial," kata dia.

Kasus perundungan ini kembali mencuat setelah seorang mahasiswi PPDS Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ditemukan tewas di kamar kosnya pada 12 Agustus 2024 lalu. Korban, yang diduga bunuh diri dengan menyuntikkan obat penenang, sebelumnya mengaku mengalami tekanan yang luar biasa selama mengikuti pendidikan PPDS Anestesi.

Baca Juga: Wapres Ma'ruf Amin Ungkap Potensi Besar Ekonomi Syariah

Akibat insiden tragis tersebut, Kementerian Kesehatan segera mengambil tindakan tegas dengan menutup sementara kegiatan pendidikan PPDS Anestesi di Undip. Budi menegaskan bahwa tindakan ini diambil sebagai langkah awal untuk mencegah terulangnya kejadian serupa dan untuk mereformasi sistem pendidikan kedokteran di Indonesia.

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini