Minggu, 19 Juli 2026

80 Persen Rumah Subsidi Kosong

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Selasa, 3 September 2024 | 15:49 WIB
Rumah subsidi.  (X)
Rumah subsidi. (X)

NAWACITAPOST.COM - Sekitar 80 persen dari rumah subsidi yang telah dibangun di Indonesia hingga kini masih belum berpenghuni. Fenomena ini menjadi sorotan utama, mengingat upaya besar yang telah dilakukan pemerintah melalui berbagai program perumahan rakyat.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Zainal Fatah, menanggapi situasi ini dengan pandangan yang realistis.

Zainal menjelaskan bahwa tingginya angka rumah subsidi yang kosong sering kali terkait dengan proses pembangunan yang belum sepenuhnya rampung atau karena penghuni belum sempat pindah. "Kalau rumah subsidi ya biasa kan, belum selesai (pembangunan), belum pindah," ungkap Zainal.

Meski begitu, minat terhadap rumah subsidi ternyata masih tinggi. Hal ini terlihat dari habisnya stok Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang sudah disediakan, hingga pemerintah memutuskan untuk menambah stok tersebut.

Baca Juga: Publik Menunggu Kejelasan, Mahfud MD Desak Kaesang Pangarep Jelaskan Soal Dugaan Gratifikasi

Pada tahun 2024, kuota FLPP ditingkatkan menjadi 200.000 unit rumah subsidi, meningkat dari alokasi awal yang hanya sebesar 166.000 unit. Untuk mengatasi persoalan rumah kosong ini, Kementerian PUPR terus mendorong Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) serta bank pelaksana agar melakukan pemantauan lebih ketat.

Pemerintah berupaya memastikan bahwa rumah subsidi benar-benar dihuni oleh mereka yang berhak, dan bukan dialihkan kepada pihak lain yang tidak sesuai dengan ketentuan. Hal ini juga sejalan dengan temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang menunjukkan adanya indikasi pengalihan rumah subsidi kepada pihak yang tidak berhak di beberapa provinsi.

Direktur Jenderal Perumahan Kementerian PUPR, Iwan Suprijanto, menyebutkan bahwa tingkat kekosongan rumah subsidi di beberapa daerah mencapai 60 hingga 80 persen, yang merupakan angka yang cukup memprihatinkan. “Oleh karena itu, pemerintah mendukung penambahan (kuota tahun 2024) FLPP ini, tetapi harus tepat sasaran,” tegas Iwan dalam sebuah diskusi di Jakarta.

Untuk mengatasi permasalahan ini, pemerintah akan bekerja sama dengan berbagai pihak terkait, termasuk BP Tapera, bank pelaksana, dan pengembang properti. Pemantauan akan diperketat untuk memastikan rumah subsidi tidak hanya terbangun, tetapi juga benar-benar dihuni oleh masyarakat yang berhak.

Baca Juga: PHK Meningkat Tajam pada 2024, Sektor Manufaktur dan Teknologi Paling Terdampak

Pemerintah juga menekankan pentingnya teknologi dalam memantau dan mengelola data hunian, yang dapat membantu mengurangi tingkat kekosongan rumah subsidi di masa depan.

Fenomena ini mencerminkan tantangan besar dalam program perumahan nasional. Meskipun pemerintah telah berhasil membangun banyak rumah subsidi, tantangan berikutnya adalah memastikan rumah-rumah tersebut benar-benar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Upaya pemantauan dan penegakan aturan yang lebih ketat diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengatasi masalah ini, sehingga program perumahan rakyat dapat berjalan lebih efektif dan tepat sasaran.

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini