Minggu, 19 Juli 2026

KLHK Dorong Gaya Hidup Minim Sampah dalam Festival LIKE 2

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Sabtu, 10 Agustus 2024 | 19:48 WIB
KLHK untuk mendorong perubahan paradigma dalam pengelolaan sampah. (Istimewa)
KLHK untuk mendorong perubahan paradigma dalam pengelolaan sampah. (Istimewa)

NAWACITAPOST.COM - Pada hari pertama Festival LIKE 2 yang digelar pada 8 Agustus 2024, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya Beracun (PSLB3), bekerja sama dengan Le Minerale, mengadakan talkshow inspiratif bertajuk "Gaya Hidup Minim Sampah". 
 
Acara ini diselenggarakan di Jakarta Convention Centre dan menghadirkan dua pembicara utama, yakni Ana Suryana, Penyuluh Lingkungan Hidup KLHK, dan Tania W. Arinintyas, Sustainability Manager Le Minerale.
 
Talkshow tersebut ditujukan kepada mahasiswa, sociopreneur di bidang pengelolaan sampah, pegiat bank sampah, serta masyarakat umum yang hadir di Festival LIKE 2. 
 
Kegiatan ini menjadi salah satu upaya KLHK untuk mendorong perubahan paradigma dalam pengelolaan sampah, dari sekadar membuang sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA) menjadi pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan melalui prinsip pilah, guna ulang, dan daur ulang.
 
 
Vinda Damayanti, Direktur Pengurangan Sampah Ditjen PSLB KLHK, menjelaskan bahwa pengelolaan sampah menjadi salah satu prioritas pemerintah dalam menghadapi tiga krisis planetari (triple planetary crisis) yaitu perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi. 
 
Pengelolaan sampah, menurut Vinda, merupakan bagian dari upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) dan menjadi strategi penting untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.
 
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), jumlah sampah di Indonesia pada tahun 2023 mencapai 69,9 juta ton, dengan 41,60% di antaranya merupakan sampah sisa makanan dan 18,71% adalah sampah plastik. Sumber utama sampah berasal dari rumah tangga, dengan persentase mencapai 44,37%. 
 
"Angka ini menunjukkan betapa pentingnya perubahan pola pikir masyarakat dalam mengelola sampah," ungkap Ana Suryana dalam sesi talkshow. Ana menekankan bahwa sampah bukan lagi sekadar barang yang harus dibuang, melainkan bisa menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi melalui penerapan konsep ekonomi sirkular.
 
 
Dalam mendukung ekonomi sirkular, Le Minerale, sebagai salah satu produsen air mineral, juga turut serta dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya daur ulang sampah plastik. Tania W. Arinintyas menjelaskan bahwa Le Minerale telah mengembangkan Recycling Business Unit (RBU) sebagai model bisnis sosial untuk mengolah sampah botol plastik menjadi bahan baku produk daur ulang. 
Namun, Tania juga menyoroti tantangan yang masih dihadapi dalam memperoleh pasokan bahan baku daur ulang, terutama recycled PET (Polyethylene Terephthalate), di Indonesia.
 
Pemerintah Indonesia melalui UU No.18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah telah mengatur pengelolaan sampah dari hulu ke hilir, yang mencakup pencegahan, pembatasan, penggunaan ulang, dan pendauran ulang. 
 
Sejalan dengan tema Festival LIKE 2, yakni "10 Tahun Kerja untuk Keberlanjutan", talkshow ini menekankan pentingnya peran semua pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, produsen, hingga masyarakat sebagai konsumen dalam mengelola sampah secara bertanggung jawab.
 
KLHK dalam acara ini mengajak masyarakat untuk mulai menerapkan gaya hidup minim sampah dengan langkah-langkah sederhana, seperti mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai, membawa wadah makanan dan minuman sendiri saat berbelanja, serta mendaur ulang sampah organik menjadi kompos atau produk lain yang bermanfaat. 
 
Melalui kampanye ini, diharapkan masyarakat dapat berperan aktif dalam menjaga lingkungan dan mendukung upaya pengelolaan sampah yang lebih baik di Indonesia. 

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Terkini