Kamis, 4 Juni 2026

Mengenang Saonigeho: Pejuang Gigih dari Nias Selatan yang Melawan Penjajahan Belanda

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Selasa, 6 Agustus 2024 | 12:02 WIB
Potret pahlawan Kepulauan Nias Saonigeho, dan komplek pemakamannya.  (X)
Potret pahlawan Kepulauan Nias Saonigeho, dan komplek pemakamannya. (X)

NAWACITAPOST.COM - Di desa Orahili, Nias Selatan, Sumatera Utara, lahir seorang tokoh pejuang bernama Saonigeho. Sejak tahun 1840 hingga 1863, Saönigeho menyaksikan penderitaan rakyat di bawah penindasan Belanda.

Pengalaman ini menimbulkan dendam yang mendalam dalam dirinya terhadap perlakuan sewenang-wenang penjajah. Pada tahun 1916, Saonigeho diangkat menjadi Raja Bawömataluo, kesempatan yang bisa ia manfaatkan untuk menggalang kekuatan melawan Belanda yang saat itu tengah melakukan sensus di Desa Hiligeho.

Saonigeho memulai perjuangannya dengan melakukan pengintaian untuk mengetahui lokasi penyimpanan senjata Belanda di desa Hiligeho. Setelah mendapatkan informasi tersebut, ia mengadakan pertemuan dengan para pejuang dari berbagai daerah seperti Balöhalu, Nias Tengah, Solagö Tanö, dan Hilisimaetanö.

Dari sekian banyak yang hadir, hanya Saonigeho yang berani mengambil tindakan nyata untuk menyerang Belanda. Dalam sebuah serangan yang dipimpin oleh Saonigeho, pasukannya menuju desa Hiligeho.

Baca Juga: Sambut HUT ke-79 RI: Mengenal 10 Pahlawan Nasional dari Sumatra Utara

Sayangnya, upaya tersebut diketahui oleh salah satu tentara Belanda yang sedang mandi. Tentara tersebut segera memberi tahu rekan-rekannya, sehingga pasukan Saonigeho akhirnya dipukul mundur oleh tentara Belanda.

Beberapa hari setelah serangan tersebut, Belanda melakukan konsolidasi di Desa Bawömataluo dengan maksud memaksa Saonigeho tunduk. Pasukan Belanda mengepung desa dari tiga penjuru dan seorang tentara naik ke Omo Nifolasara untuk berunding dengan Raja Saonigeho.

Tentara Belanda telah berencana untuk membumihanguskan desa Bawömataluo jika raja tidak tunduk. Demi keselamatan rakyatnya, Saonigeho akhirnya menyerah dengan beberapa perjanjian, termasuk penghapusan perbudakan, cara memelihara babi di kolong rumah, dan cara penguburan yang disanggah di atas tanah.

Setelah menyerah, Saonigeho ditangkap dan dibawa ke Gunungsitoli. Tentara Belanda memberikan syarat kepada warga Desa Bawömataluo jika ingin Raja Saonigeho bebas, mereka harus menyelesaikan pembangunan jalan dari Löhö sampai Lagundri.

Baca Juga: Perbandingan Biaya Operasional Mobil Listrik vs Mobil Bensin, Mana yang Lebih Hemat?

Tantangan ini disambut dengan semangat oleh warga yang dipimpin oleh Faciako (Solagö Maenamölö), menantu dari Fakhoi, saudara Raja Saonigeho. Setelah syarat tersebut terpenuhi, Saonigeho akhirnya dibebaskan.

Sekitar tahun 1980, Saonigeho pernah masuk nominasi sebagai pahlawan nasional. Meskipun kisah perjuangannya sempat terdokumentasi dalam buku-buku, catatan tersebut kini hilang sehingga tidak termuat dalam buku pelajaran.

Untuk mengenang jasanya, nama Saonigeho diabadikan sebagai nama sebuah jalan di kota Teluk Dalam, Nias Selatan. Hingga saat ini, penghargaan resmi dari pemerintah masih belum diberikan kepada Saonigeho, namun semangat perjuangannya tetap hidup di hati masyarakat Kepulauan Nias.

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini