Kamis, 4 Juni 2026

Jokowi Minta Maaf, PDIP Anggap Pernyataan Presiden Justru Kebalikan dari Fakta

Photo Author
- Jumat, 2 Agustus 2024 | 19:56 WIB
Anggota DPR RI Fraksi PDI-P, Masinton Pasaribu. (DPR)
Anggota DPR RI Fraksi PDI-P, Masinton Pasaribu. (DPR)

NAWACITAPOST.COM - Presiden Joko Widodo (Jokowi) baru-baru ini membuat pernyataan maaf kepada masyarakat Indonesia. Ia mengakui bahwa dirinya dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin tidak dapat memenuhi semua harapan rakyat.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara "Zikir dan Doa Kebangsaan" di Istana Merdeka pada Kamis malam (1/8/2024).

Namun, reaksi dari partai politik pendukungnya, khususnya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), menunjukkan ketidakpuasan terhadap langkah tersebut.

Anggota DPR dari Fraksi PDIP, Masinton Pasaribu, menilai bahwa permintaan maaf Jokowi tidak diperlukan oleh partainya. Masinton menyatakan bahwa PDIP sudah memahami karakter Jokowi dan tidak merasa perlu menerima permintaan maaf tersebut.

"Nggak perlu minta maaf ke PDIP, karena sudah tahu watak aslinya," ujar Masinton kepada wartawan.

Baca Juga: Jokowi Minta Maaf, Ray Rangkuti: Pertanda Kekhawatiran Kehilangan Dukungan Politik

Masinton juga mengkritik pernyataan Jokowi yang dianggap tidak konsisten. Dia menganggap bahwa Jokowi seharusnya lebih jujur kepada rakyat tentang kondisi nyata yang dihadapi Indonesia.

"Jujurlah ke rakyat, sampaikan bahwa konstitusi tak ditaati, demokrasi dan penegakan hukum hancur," katanya.

Masinton juga menyoroti masalah-masalah seperti utang negara yang terus melonjak, eksploitasi sumber daya alam oleh oligarki, dan ketergantungan impor yang merugikan rakyat. Politikus PDIP lainnya, Deddy Sitorus, juga memberikan kritik tajam terhadap Jokowi. Deddy menganggap pernyataan-pernyataan Jokowi sering kali bertentangan dengan kenyataan.

"Kalau cuma kata-kata, saya kira tidak ada artinya. Sebab, beliau sudah terlalu sering mengatakan utara, tapi perginya ke selatan," ujar Deddy.

Baca Juga: Mengenal Budi Djatmiko, Ketum APTISI: Sang Arsitek Transformasi Pendidikan di Indonesia

Ia menganggap bahwa ucapan Jokowi sering kali tidak konsisten dan sulit untuk dipegang. Deddy juga mengecam beberapa kebijakan Jokowi yang dianggap merugikan rakyat kecil, seperti regulasi yang tidak menguntungkan buruh dan masyarakat adat.

Ia menyarankan Jokowi untuk menggunakan sisa masa jabatannya untuk menghentikan apa yang dianggapnya sebagai penghancuran demokrasi dan kelembagaan. "Kalau serius minta maaf sama rakyat, silakan dihapus semua regulasi yang merugikan rakyat kecil," tegas Deddy.

 

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini