mix-news

Inovasi Darurat: Pengeras Suara Masjid Disulap Jadi Alarm Peringatan Dini Gempa Bumi Indonesia

Senin, 12 Oktober 2026 | 13:20 WIB
Tim ilmuwan Jepang dan Indonesia menguji pengeras suara masjid sebagai bagian dari proyek peringatan dini gempa bumi (Instagram.com/@nurulkjo1). (Instagram.com/@nurulkjo1)

NAWACITAPOST.COM — Di tengah ancaman konstan bencana seismik, Indonesia kini tengah menguji strategi mutakhir dan tak biasa demi memperkuat sistem peringatan dini gempa bumi.
 
Fasilitas keagamaan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat, yakni pengeras suara masjid, kini ditransformasikan agar berpotensi memancarkan raungan alarm darurat yang mampu menjangkau warga hingga ke pelosok wilayah terpencil.

Proyek percontohan berskala internasional ini merupakan kolaborasi strategis antara ilmuwan Jepang dan Indonesia yang ditargetkan berlangsung hingga tahun 2030.
 
Baca Juga: Waspada! Teror APK WhatsApp 2026 Mengintai, Data Pribadi dan Rekening Terancam Kuras
 
Dalam skema pengujian, sejumlah bangunan masjid telah terintegrasi secara teknis dengan jaringan sensor seismik presisi tinggi guna membuktikan efektivitas pengeras suara lokal sebagai benteng pertahanan utama saat gempa bumi Indonesia menerjang.

Gagasan visioner ini dicetuskan oleh Dr. Inoue Hiroshi dari Institut Penelitian Pencegahan Bencana Universitas Kyoto.
 
Berdasarkan pengalamannya meneliti rentetan gempa mematikan di Sumatra, ia menyadari potensi besar dari infrastruktur yang sudah mengakar di tengah masyarakat.

“Setiap komunitas memiliki masjid,” kata Inoue dikutip dari The Guardian, Senin (12/10/2026).
 
Baca Juga: Tragis! Kakak Beradik Tewas Dihantam Truk Usai Cek Sekolah Libur Akibat Asap

Inoue menekankan bahwa keberadaan pengeras suara masjid menyimpan keunggulan logistik yang sangat signifikan.
 
Selain perangkatnya sudah tersedia secara masif, keberadaannya juga senantiasa dirawat secara swadaya oleh warga lokal.
 
Kondisi ini dinilai ampuh memecahkan salah satu kendala terbesar dalam infrastruktur mitigasi bencana nasional, yaitu kerumitan pemeliharaan perangkat alarm gempa.

Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar, Indonesia memiliki jaringan masjid yang sangat luas dengan sistem audio yang aktif digunakan setiap hari.
 
Sistem berbasis komunitas ini dinilai berpotensi kuat melengkapi teknologi peringatan bencana berbasis telepon seluler, yang sering kali mendadak lumpuh akibat transmisi sinyal terganggu saat guncangan gempa terjadi. Inisiatif ini turut mendapatkan apresiasi tinggi dari kalangan peneliti domestik.
 
Baca Juga: BMKG Keluarkan Peringatan Cuaca Ekstrem, Jabodetabek Siap-Siap Diterjang Hujan Lebat
 
Peneliti senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus kepala tim riset gabungan Indonesia, Andi Eka Sakya, menegaskan bahwa integrasi teknologi ini berpotensi menjadi terobosan besar dalam sejarah mitigasi bencana tanah air.

Meski demikian, Andi memperingatkan bahwa sistem peringatan dini gempa ini masih berada dalam fase pengujian prototipe mendalam dan belum dioperasikan secara penuh untuk menjangkau publik.
 
Faktor kecepatan menjadi krusial, mengingat masyarakat yang berada dalam radius 50 kilometer dari pusat gempa hanya memiliki jeda waktu emas sekitar lima hingga 10 detik untuk menyelamatkan diri setelah gelombang seismik pertama terdeteksi.

“Ini masih berupa prototipe, dan mereka belum mengeluarkan peringatan kepada masyarakat umum,” tutur Andi.
 
Baca Juga: Mantan Ketua DPP HIMNI Sozifao Hia Pertanyakan Kebangkitan 'Nias Pulau Impian' Lewat Rakernas

Guna memaksimalkan daya jangkau perlindungan, tim peneliti gabungan juga memperluas cakupan studi. Selain pengeras suara masjid, penelitian ini turut mengeksplorasi integrasi sistem alarm pada pengeras suara sekolah serta saluran siaran radio dan televisi nasional sebagai bagian dari ekosistem jaringan peringatan dini terpadu.

Tags

Terkini