internasional

Transisi Kekuasaan di Tengah Bara Perang, Mojtaba Khamenei Resmi Ditunjuk Sebagai Pemimpin Tertinggi Iran

Selasa, 10 Maret 2026 | 22:09 WIB
Ilustrasi Mojtaba Khamenei Resmi Ditunjuk Sebagai Pemimpin Tertinggi Iran Transisi Kekuasaan di Tengah Bara Perang (Ai)

NAWACITAPOST.COM — Di bawah bayang-bayang ancaman militer Amerika Serikat dan Israel, Republik Islam Iran memasuki babak sejarah baru yang krusial. Majelis Ahli (Assembly of Experts), badan ulama paling berpengaruh di Iran, secara resmi menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi (Rahbar) ketiga pada Minggu (8/3/2026).

Penunjukan ini mengakhiri spekulasi politik yang mencekam pasca tewasnya sang ayah, Ayatullah Ali Khamenei, dalam serangan militer gabungan AS-Israel sembilan hari sebelumnya. Keputusan ini diambil dalam sidang darurat yang melibatkan 88 anggota Majelis Ahli di tengah situasi keamanan nasional yang berada pada level siaga tertinggi.

Melalui siaran televisi pemerintah yang memancarkan suasana duka sekaligus ketegasan, pernyataan resmi dibacakan di samping potret Mojtaba Khamenei yang kini berusia 56 tahun.

Baca Juga: DPR RI Ingatkan Pemerintah Siapkan Skenario Mitigasi Energi di Tengah Gejolak Selat Hormuz

Mandat Ulama di Tengah Agresi Global

Majelis Ahli menegaskan bahwa penunjukan ini adalah langkah konstitusional untuk menjaga stabilitas "Sistem Suci Republik Islam" dari upaya destruksi eksternal. Dalam pernyataan resminya, badan tersebut menyatakan tidak ada keraguan dalam menetapkan suksesor meskipun Iran sedang menghadapi tekanan luar biasa.

"Mojtaba Khamenei diangkat dan diperkenalkan sebagai pemimpin ketiga sistem suci Republik Islam Iran berdasarkan suara tegas para anggota Majelis Ahli. Kami tidak ragu sedetik pun dalam menetapkan arah kepemimpinan, meskipun harus menghadapi agresi brutal Amerika dan rezim Zionis," bunyi pernyataan tertulis tersebut.

Penunjukan ini menandai transisi kepemimpinan kedua sejak Revolusi Islam 1979, setelah sebelumnya Ali Khamenei dipilih menggantikan pendiri republik Ayatullah Ruhollah Khomeini, pada tahun 1989.

Kontroversi Dinasti dan Tantangan Ideologis

Penunjukan Mojtaba memicu perdebatan sengit baik di dalam maupun luar negeri. Sejak tumbangnya dinasti Shah yang pro-Barat pada 1979, Republik Islam Iran dibangun di atas fondasi penolakan terhadap sistem monarki turun-temurun.

Baca Juga: Hadapi Gejolak Global Konflik Timur Tengah, Gubernur DKI Jakarta Instruksikan Penguatan Ekonomi

Masuknya putra mendiang pemimpin tertinggi ke tampuk kekuasaan memunculkan persepsi mengenai lahirnya "dinasti agama" baru.

Reaksi keras datang dari Washington dan Tel Aviv:

  • Donald Trump (Presiden AS): Menyebut Mojtaba sebagai sosok "kelas ringan" (lightweight) dan secara provokatif menyatakan bahwa AS ingin memiliki pengaruh dalam menentukan arah kepemimpinan Teheran.
  • Militer Israel (IDF): Mengeluarkan peringatan terbuka bahwa mereka "tidak akan ragu untuk menargetkan" siapa pun yang menjadi penerus kepemimpinan Iran jika dianggap mengancam keamanan regional.

Namun, kritik eksternal tersebut justru dijawab dengan konsolidasi kekuatan domestik. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), pilar militer paling kuat di Iran, segera menyatakan sumpah setia. IRGC menegaskan posisi "ketaatan total dan pengorbanan diri" di bawah komando Mojtaba Khamenei, sebuah sinyal bahwa militer tetap solid di belakang kepemimpinan baru.

Profil Mojtaba Khamenei: "Tangan Besi" di Balik Layar

Lahir pada 8 September 1969 di Mashhad, Mojtaba bukanlah orang baru dalam lingkaran kekuasaan, meski ia jarang muncul di depan publik tanpa jabatan formal.

Baca Juga: HUT ke-29 Kota Bekasi, Wali Kota Salurkan Bantuan Disabilitas dan Beri Peringatan Keras Terkait Disiplin ASN

Berikut adalah profil mendalam sang pemimpin baru:

Halaman:

Tags

Terkini

Trump Menyerah Pada Iran Demi Pasokan Minyak

Rabu, 8 April 2026 | 16:23 WIB