NAWACITApost.com - Negara Ghana diambang kebangkrutan. Negara di Afrika Barat itu mengalami kebangkrutan lantaran tak sanggup membayar utang sebesar US$3 miliar ke Dana Moneter Internasional (IMF) yang dipinjam tahun lalu.
Warga Ghana bahkan menggelar demo berhari-hari usai negara mereka mengalami gonjang-ganjing ekonomi imbas inflasi yang sempat melonjak tajam. Diketahui bahwa krisis keuangan tersebut memiliki dampak yang luas, dengan banyaknya kontraktor yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap pekerja, yang kemudian memperparah masalah pengangguran.
Mengutip dari laporan Africa.com, Rabu (17/9/2023), Kepala eksekutif sebuah asosiasi perusahaan konstruksi Ghana, Emmanuel Cherry, baru-baru ini mengungkapkan bahwa pembayaran kembali pemerintah kepada kontraktor berjumlah sekitar US$1,3 miliar dan belum termasuk bunga. Kemudian, laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa pemerintah Ghana berutang produsen listrik independen sebesar US$1,58 dan berada dalam bahaya mengalami pemadaman listrik massal.
“Pemerintah pada dasarnya bangkrut. Ini adalah kali ke-17 Ghana terpaksa menggunakan dana tersebut sejak memperoleh kemerdekaan pada tahun 1957,” jelas laporan tersebut.
Sementara itu, Reuters menyebutkan, ratusan demonstran berkumpul di Accra pada minggu lalu selama tiga hari untuk unjuk rasa anti-pemerintah. Ghana sebagai negara penghasil emas, minyak dan kakao dalam satu generasi, mengalami krisis ekonomi terburuk dalam satu generasi disebabkan oleh meningkatnya utang publik.
Kemudian, pada tahun lalu protes terhadap lonjakan harga dan tantangan ekonomi lainnya menyebabkan bentrokan dengan polisi dan mendorong pihak berwenang untuk meminta bantuan IMF. Sejak saat itu, pemerintah berfokus pada restrukturisasi utang dan mengurangi pengeluaran untuk mendapatkan akses terhadap program pinjaman IMF senilai US$3 miliar yang berjangka waktu tiga tahun.
Berdasarkan laporan Kementerian Keuangan Ghana, utang pemerintah Ghana mencapai USD 58,64 miliar atau sekitar Rp 908 triliun (kurs Rp 15.300 per dolar AS) di akhir 2022, meningkat 23,7 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai USD 52,32 miliar. Rasio utang pemerintah Ghana mencapai 70,71 persen dari produk domestik bruto (PDB) di 2022.
Di sisi lain, inflasi selama tahun ini selalu di atas 40 persen, bahkan di Januari 2023 tembus 54 persen. Sementara itu, suku bunga acuan naik dari 14 persen di Desember 2021 menjadi 27 persen di akhir Desember 2022.