Manila, NAWACITA. Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengaku "serius mempertimbangkan" untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Islandia. Ia kesal karena Islandia merupakan negara terdepan terkait Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mendorong penyelidikan terhadap kebijakan 'perang melawan narkotika' di Filipina.
Selama ini Duterte mengecam negara manapun yang mengkritik kebijakannya terkait pemberantasan narkoba di Filipina. Kebijakan tersebut telah menewaskan ribuan orang, yang dikatakan sejumlah kritik dapat dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.
Ancaman pemutusan hubungan diplomatik disampaikan juru bicara kepresidenan Filipina Salvador Panelo. Pernyataan itu merupakan respons terhadap Dewan Hak Asasi Manusia PBB yang mendukung proposal resolusi Islandia mengenai perang narkoba di Filipina.
"(Duterte) serius mempertimbangkan untuk memutus hubungan diplomatik dengan Islandia," kata Panelo.
"Resolusi yang didorong Islandia bersifat satu arah, berpandangan sempit dan sangat partisan," lanjutnya, disitat dari laman AFP, Selasa 16 Juli 2019.
Perang narkoba ala Duterte dimulai pada 2016. Sejak saat itu kepolisian Filipina mengaku telah membunuh lebih dari 5.300 terduga kasus narkoba. Namun, sejumlah grup HAM menduga angka kematian sebenarnya empat kali lipat dari laporan resmi pemerintah Filipina.
Resolusi PBB oleh Islandia baru merupakan tambahan dari investigasi yang telah dilakukan tim jaksa dari Pengadilan Kriminal Internasional (ICC). Filipina telah meninggalkan keanggotaan ICC tahun ini.
Menurut Panelo, resolusi PBB oleh Islandia "mendemonstrasikan bagaimana kekuatan Barat merendahkan kedaulatan negara dalam melindungi masyarakat kami."
Pekan kemarin, Amnesty International merilis sebuah laporan yang menuduh pembunuhan dalam perang narkoba di Filipina dilakukan secara "sistematis." Menurut Amnesty, polisi yang membunuh para terduga kasus narkboa cenderung dibiarkan begitu saja oleh Duterte.
Jumat kemarin, Duterte secara personal telah menyerang Islandia terkait resolusi PBB. "Islandia, apa sebenarnya masalah di Islandia? Masalah mereka hanya es. Itu masalah kalian. Ada terlalu banyak es di negara kalian," tutur Duterte.
"Para idiot di Islandia tidak memahami masalah sosial, ekonomi, dan politik di Filipina," sambungnya, seperti dilansir dari kompascom.
Filipina dan Islandia memiliki hubungan diplomatik resmi. Namun menurut Menteri Luar Negeri Filipina Teodoro Locsin, keduanya tidak memiliki kedubes di negara masing-masing.
Kerja sama ekonomi kedua negara meliputi investasi energi panas bumi di Filipina. Sementara Filipina mengirimkan tenaga kerja mereka untuk bekerja sebagai buruh pabrik dan perawat di Islandia.
Editor: Admin 1
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Terkini
Sabtu, 18 Juli 2026 | 18:09 WIB
Jumat, 17 Juli 2026 | 11:19 WIB
Sabtu, 18 April 2026 | 11:53 WIB
Kamis, 9 April 2026 | 08:13 WIB
Rabu, 8 April 2026 | 16:23 WIB
Selasa, 7 April 2026 | 21:18 WIB
Selasa, 7 April 2026 | 10:08 WIB
Senin, 6 April 2026 | 14:46 WIB
Senin, 6 April 2026 | 11:16 WIB
Minggu, 5 April 2026 | 18:37 WIB
Sabtu, 4 April 2026 | 16:06 WIB
Jumat, 3 April 2026 | 13:51 WIB
Selasa, 31 Maret 2026 | 16:17 WIB
Sabtu, 14 Maret 2026 | 18:27 WIB
Jumat, 13 Maret 2026 | 17:44 WIB
Rabu, 11 Maret 2026 | 14:57 WIB
Selasa, 10 Maret 2026 | 22:09 WIB
Selasa, 10 Maret 2026 | 06:00 WIB
Rabu, 4 Maret 2026 | 21:10 WIB
Sabtu, 21 Februari 2026 | 20:16 WIB