NAWACITAPOST.COM — Massa yang mengatasnamakan Gerakan Aspirasi Surabaya (GAS) menggelar demonstrasi di depan gedung Bawaslu Surabaya pada Kamis, 26 September 2024.
Mereka menuntut agar Ketua Bawaslu Surabaya, Novli Bernado Thyssen, segera mundur dari jabatannya.
Aksi ini digelar menyusul kasus dugaan penganiayaan dan pengancaman yang melibatkan Novli terhadap seorang perempuan berinisial EDS.
Baca Juga: Korban 'Dugaan' Penganiayaan oleh Komisioner Bawaslu Surabaya Tuntut Keadilan
"Kami mendesak Novli Bernado Thyssen untuk mengundurkan diri secara terhormat karena sudah merusak marwah Bawaslu Surabaya dan membuat gaduh di kota ini," ujar Aziz, koordinator aksi.
GAS menyayangkan adanya laporan yang masuk ke Polrestabes Surabaya terkait dugaan tindakan kekerasan oleh Novli.
Mereka juga meminta Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) untuk melakukan pemeriksaan terhadap mantan Ketua Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Jatim tersebut.
Baca Juga: Bimtek untuk Panwascam, Bawaslu Surabaya Siap Hadapi Pilkada 2024
"Saya berharap DKPP segera menjatuhkan sanksi pemberhentian secara tidak hormat. Aparat penegak hukum juga harus memanggil dan menyelidiki kasus ini," tegas Aziz.
Di lokasi, massa aksi membentangkan spanduk berisi kecaman, termasuk salah satu yang bertuliskan, "Copot dan pecat diduga tukang selingkuh dan yang mencederai Kota Surabaya."
Sebagai bentuk protes, mereka juga membakar ban mobil, mengeluarkan asap yang menyelimuti gedung Bawaslu.
Baca Juga: Jelang Pilkada 2024, Bawaslu Surabaya Fokus pada Pencegahan Sengketa Pencalonan
Sementara itu, kepada media Novli Bernado Thyssen menyebut laporan tersebut sebagai tuduhan yang tidak berdasar. Ia menyatakan siap untuk menjalani pemeriksaan di kepolisian.
"Saya akan patuh mengikuti proses pemeriksaan yang sedang berjalan, dan siap dipanggil oleh polisi," ungkap Novli.