Baca Juga : Kelebihan Bayar Anies, Dugaannya Hinggap Di Kantong JK? KPK Hati Hati Mengusutnya
Anehnya, begitu menyangkut Kepala Staf Presiden Moeldoko dan anaknya yang kata Indonesia Coruption Watch (ICW) diduga ada kerjasama dengan perusahaan obat covid. Bahkan belum tentu kebenarannya, ICW begitu gencar menuduh mantan panglima TNI itu terlibat dalam bisnis obat tersebut.
ICW dengan lantang dan berani merangkainya, bahwa ada hubungan antara Moeldoko, anaknya dan pemilik perusahaan obat itu mulai dari A sampai Z. Namun, ketika Moeldoko melalui pengacaranya Otto Hasibuan untuk membuktikan, ICW tak bisa berkata apa-apa alias alat bukti yang dituduhkan ICW tak ada.
Terus, soal Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) yang mana Novel Baswedan tak lolos TWK, ICW pun ikut komentari yang bukan hak dan wewenangnya. Padahal dalam TWK buat pegawai KPK, melibatkan 4 lem baga negara di luar KPK, dan untuk tesnya pun hanya berkode nomor tanpa nama yang tercantum. Tetap saja ICW menganggap TWK sengaja menyingkirkan penyidik senior KPK.
Jadi bisa diduga, kenapa ICW diam, menyoroti kelebihan bayar DKI. Ternyata Anies sudah tempatkan Novel untuk meredamnya. Tentu tidak gratis, kemungkinan ada sesuatu yang disampaikan Anies ke ICW melalui sepupunya itu.
Kedua Soal itu ICW membuka mata dan telinga. Bahkan menambah penglihatan dan pendengarannya dengan berbagai cara yang didapatkan, entah itu legal dan ilegal. Kita tidak tahu soal itu.
Kini, kelebihan bayar berulang-ulang DKI Jakarta dengan Gubernurnya Anies Baswedan, ICW menutup telinga dan mata. Bahkan, suaranya tak terdengar soal kelebihan bayar DKI. dugaannya kelebihan itu nyangkut di ICW atau mungkin bisa juga dititipkan pemda DKI untuk diurus oleh ICW.
Yang pasti dan jelas, untuk soal ini, ICW tak mahu tahu alias masa bodoh. Tak peduli orang bilang, yang penting lembaga yang berkantor di daerah Kalibata,Jakarta Selatan itu 'mendapat sesuatu' dari kelebihan bayar tersebut.