gaya-hidup

BKKBN Buka Suara Soal Viral Wejangan 'Jangan Buru-Buru Nikah'

Kamis, 22 Desember 2022 | 13:34 WIB
BKKBN Buka Suara Soal Viral Wejangan 'Jangan Buru-Buru Nikah'

Jakarta, NAWACITAPOST.COM - Berawal dari sebuah cuitan yang menyebut, orang-orang yang sudah menikah umumnya justru menyarankan orang lain untuk tidak menikah buru-buru. Kini, warga Twitter ramai memperbincangkan wejangan 'jangan nikah buru-buru'.

BACA JUGA : Jokowi: Mungkin Akhir Tahun PSBB dan PPKM Dihentikan! 

Memangnya, seperti apa bahaya buru-buru nikah? ini penjelasannya yang disampaikan langsung oleh Kepala BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional).

Melansir dari Detikhealth, Menurut Kepala BKKBN dr Hasto Wardoyo, SpOG, idealnya, perempuan menikah di usia 20 tahun ke atas sementara laki-laki di usia 25 tahun ke atas. Anjuran tersebut berpatok pada kesiapan fisik, finansial, hingga kematangan mental dan kedewasaan individu.

“Pernyataan itu banyak benarnya, sekarang ini masih banyak perempuan yang menikah kurang dari umur 20 tahun” ujar Kepala BKKBN dr Hasto Wardoyo SpOG pada Senin (19/12).

BKKBN mengkampanyekan untuk laki-laki menikah minimal 25 tahun, dengan harapan ia bisa jadi orang yang dewasa dibanding perempuan, sudah memiliki pekerjaan yang mapan yang bisa menanggung istrinya secara finansial, jadi matang ekonominya, juga siap mental” imbuhnya.

“Alasan biologisnya wanita di bawah 20 tahun resiko melahirkan bayi stunting, kematian bayi. Ibunya sendiri pinggulnya masih sempit, sering anemia, tulangnya seharusnya bisa bertambah panjang gara-gara hamil diambil bayinya, tidak bagus” terangnya.

Namun secara kesiapan mental dr Hasto menegaskan, kebanyakan kasus perceraian terjadi karena masalah-masalah kecil yang terjadi terus-menerus. Jika pasangan suami-istri belum cukup dewasa untuk menghadapi konflik tersebut, semakin besar risiko perceraian.

"Sekarang ini kan angka perceraian juga tinggi. Perceraian itu lebih disebabkan konflik-konflik kecil yang sifatnya terus-menerus terjadi yaitu namanya konflik kronis. Kronis itu kan berlangsung lama, terus-menerus itu namanya kronis," ungkap dr Hasto.

Kalau perkawinan, kitu umumnya karena kronis faktor yang terus-menerus konflik dan kekurangdewasaan sehingga kawin-kawin pada usia terlalu muda kemudian laki-laki masih belum dewasa untuk mengasuh istrinya ini menjadi sumber utama perceraian juga," pungkasnya.

Tags

Terkini