Sementara musisi Surabaya harus menempuh jarak lebih jauh ketika ingin masuk lebih dalam ke jaringan industri tersebut.
Meski demikian, Didik menegaskan persoalannya bukan pada kualitas.
Menurut dia, bibit musisi rock Surabaya masih banyak. Hanya saja, mereka membutuhkan ekosistem yang memungkinkan karya dan kemampuan tersebut berkembang.
“Ada. Banyak. Iya, ya itu tadi, venue yang jadi utama. Kedua untuk tempat recording,” paparnya.
Media Sosial Jadi Jalan Alternatif
Di tengah keterbatasan venue dan akses industri rekaman, Didik melihat perkembangan teknologi justru membuka peluang baru.
Platform seperti YouTube dan media sosial dapat dimanfaatkan musisi muda untuk memperkenalkan karya tanpa sepenuhnya bergantung pada industri musik konvensional.
Musisi, kata dia, kini bisa membangun audiens sendiri, mengunggah karya dan memperkenalkan kemampuan mereka secara lebih luas.
Salah satu upaya yang sedang berjalan adalah event musik indie yang akan memasuki tahap penyisihan pada 13 dan 14 Oktober. Grand final dijadwalkan berlangsung pada 17 Oktober di Grand City Convention and Exhibition lantai 3.
Didik mengaku dilibatkan sebagai salah satu dewan juri dalam kegiatan tersebut.
“Saya akan menyampaikan unek-unek seperti ini, baik secara potensi saya dulu di dunia belantika musik maupun saya di kedewanan,” katanya.
Surabaya Butuh Panggung Besar dan Promotor
Didik juga menilai geliat musik rock Surabaya membutuhkan kembali kehadiran penyelenggara atau promotor besar yang mampu mengemas pertunjukan secara konsisten.
Ia menyebut nama Log Zhelebour sebagai salah satu sosok yang pernah memiliki peran dalam menghidupkan panggung musik rock.
Didik bahkan mengingat salah satu event musik di Alun-Alun Surabaya yang menghadirkan sejumlah musisi dan band lama.
Bagi Didik, banyaknya musisi yang masih mampu tampil menunjukkan bahwa potensi rock Surabaya sebenarnya belum hilang.
Yang diperlukan adalah ekosistem yang mempertemukan musisi, venue, promotor, industri rekaman dan penonton.