Kamis, 4 Juni 2026

Asal Mula Kopi Asin Jadi Jamuan Lamaran di Turki

Photo Author
Vanessa, Nawacita Post
- Selasa, 19 September 2023 | 14:53 WIB

NAWACITApost.com  - Prosesi lamaran biasanya dilaksanakan sekitar 2 hingga 6 bulan sebelum hari pernikahan dilangsungkan. Proses lamaran atau menjelang pernikahan di setiap negara berbeda-beda, tak terkecuali seperti di Turki.

Ada dua versi terkait proses lamaran di Turki, yang pertama kisah Kolonel Kekaisaran Otoman adalah Osman Fevzi ketika melamar istrinya dan kedua berasal dari Cappadocia salah satu daerah di Turki.

Kisah yang pertama adalah kisah Kolonel Kekaisaran Otoman adalah Osman Fevzi ketika melamar istrinya. Saat semua keluarga Osman Fevzi dan calon istrinya berkumpul untuk proses lamaran, mulailah calon istrinya membuatkan hidangan kopi untuk disajikan pada Osman Fevzi.

Menjadi hal wajib seorang perempuan di keluarga harus bisa membuat ibrik kopi, namun ketidak-sengajaan calon istrinya memasukan garam menjadi budaya yang berkembang hingga sekarang. Calon istri yang khawatir Osman Fevzi akan mengatakan hal yang menyakitkan hati dan membuatnya malu, ternyata tidak. Malahan Osman Fevzi tidak menunjukkan rasa kesal sedikit pun ketika meminum kopi asin tadi. Karena Osman Fevzi tidak ingin calon istrinya malu di depan keluarga, bahkan Osman Fevzi tidak menceritakan kejadian itu hingga akhir hayatnya.

Kisah yang kedua berasal dari Cappadocia salah satu daerah di Turki, walaupun kisah ini sebenarnya hampir di tiap daerah Turki berkembang. Kisah yang berkembang dan mungkin berawal dari kisah Osman Fevzi yang begitu romantis, tidak ingin calon istrinya menanggung malu dan meminum kopi asin dengan penuh nikmat.

Bedanya, berkembangnya kisah ini menjadikan kopi asin tadi, memang sengaja dimasukkan si peremppuan ke sajian kopi untuk melihat bagaimana reaksi calon suami yang ingin melamarnya.

Ketika si perempuan membuatkan kopi untuk tamu yang hendak melamarnya, memasukkan garam dan disajikan kopi asin, tujuannya agar melihat bagaimana karakter laki-laki yang akan ia nikahi nanti.

Jika laki-laki tersebut meminumnya dan menikmatinya maka si laki-laki menerima si perempuan apa adanya, namun jika tidak meminumnya maka si laki-laki ingin mengenalnya lebih jauh terlebih dahulu tentang si perempuan sebelum menikahinya dan begitu pun sebaliknya.

Walaupun demikian, di zaman sekarang kisah ini hanya sekadar kisah, beberapa keluarga di Turki sudah jarang melakukan tradisi ini, hanya sebagian keluarga saja yang masih menerapkannya.

Editor: Vanessa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini