Kamis, 4 Juni 2026

Seorang Prajurit Yonkes 1/YKH/1 Kostrad Prada Prima Saleh Gea Meninggal Dunia Pihak Keluarga Minta Diungkap Penyebab Dengan Terang Benderang

Photo Author
Fahrin Waruwu, Nawacita Post
- Minggu, 9 Juni 2024 | 21:51 WIB
Foto almarhum Prada Prima Saleh Gea Anggota TNI Prajurit Yonkes 1/YKH/1 Kostrad Yang Meninggal Dunia saat diserahkan kepada pihak Keluarga oleh Komandannya didampingi jajarannya  (NAWACITAPOST.COM.)
Foto almarhum Prada Prima Saleh Gea Anggota TNI Prajurit Yonkes 1/YKH/1 Kostrad Yang Meninggal Dunia saat diserahkan kepada pihak Keluarga oleh Komandannya didampingi jajarannya (NAWACITAPOST.COM.)
 
NAWACITAPOST.COM - Nias Utara (08/06/2024) – Perasaan duka yang mendalam dialami oleh keluarga Darwis Gea  alias Ama Sarani Gea dan Seriati Zai Alias Ina Sarani Gea, 
 
Pasangan Suami Istri ini merupakan orang tua kandung dari Prada Prima Saleh Gea, anggota kesatuan Yonkes Divisi 1 Kostrad di Bogor.
 
Betapa tidak ?, selama ini kedua orang tua dan keluarga besar bangga atas anak mereka Prima Saleh Gea telah menjadi Prajurit TNI di Kesatuan Yonkes 1/YKH/1 Kostrad di Bogor dengan pangkat Prada (prajurit dua).
 
 
Namun, bagaikan petir di siang bolong ketika mendengar kabar bahwa anak yang mereka banggakan Prada Prima Saleh Gea meninggal dunia diduga bunuh diri pada Selasa 04 juni 2024 di Kamar OB Rumkit Lapangan Yonkes 1/YKH/1 Kostrad, Bogor. informasi ini yang diterima oleh mereka keluarga.
Foto almarhum Prada Prima Saleh Gea Anggota TNI Prajurit Yonkes 1/YKH/1 Kostrad Yang Meninggal Dunia Tampak leher almarhum bekas lilitan tali di lehe (NAWACITAPOST.COM)

Ditubuh jenazah almarhum Prada Prima Saleh Gea, terlihat oleh keluarga ada bekas lilitan tali di lehernya setiba jenazah di Rumah duka di Desa Fulolo Salo’o, Kecamatan Sitolu’ori Kabupaten Nias Utara, Sumatera Utara, Rabu (05/6/2024).
 
Menurut keterangan pihak keluarga, kakak kandung almarhum menjelaskan bahwa, pada hari Selasa (04/06/2024), sekira pukul 00.30 wib salah seorang anggota Kesatuan  Yonkes 1/YKH/1 Kostrad dari Provos berinisial  EYG menginformasikan kepada mereka bahwa Prada Prima Saleh Gea  telah meninggal dunia.
 
 
"Diketahui mereka Almarhum Prada Prima Saleh Gea meninggal dunia ditemukan dengan gantung diri, dan saat itu mereka melakukan Video call, namun posisi jenazahnya sudah berada di kamar klinik Yonkes," ungkap  keluarga diterima nawacitapost.com, Minggu (9/6) atas informasi dari Provos EYG.
 
Saat itu juga ⁠Provos EYG langsung menawarkan kepada mereka keluarga mengenai proses selanjutnya, apakah dipulangkan ke Nias atau dimakamkan di Bogor ?.. Oleh karena saudara almarhum tinggal di Jakarta, maka ia pun langsung ke lokasi di Yonkes Bogor untuk melihat langsung.
 
"Setiba disana, jenazah alm Prima Saleh Gea  langsung dimandikan dan tidak ada dokumen keterangan apapun yang diberikan kepada saya oleh pihak Kesatuan," ungkapnya.
 
 
Usai dimandikan lanjutnya, sekira  pukul 08.00 wib mereka diberangkatkan melalui mobil ambulans menuju Bandara Soekarno Hatta dan dikawal 1 unit mobil TNI. 
 
Setiba di bandara, tepatnya di tempat cargo peti jenazah, ada Komandan Kompi kesatuan almarhum bernama Christian Hutauruk  menyampaikan kepadanya  bahwa tidak dapat ikut mengantar sampai ke Nias, namun katanya akan menyusul, sembari  diserahkannya kepadanya 1 tas dan 1 plastik baju dan handuk almarhum saat kejadian almarhum meninggal dunia.
 
"Sekira 15 menit sebelum memasuki pesawat,  saya dihubungi lagi oleh Provos EYG bahwasanya ia dapat petunjuk  dari komandannya untuk  menurunkan jenazah dari pesawat karena  akan dilakukan otopsi," kata Abang  almarhum menirukan penyampaian Provos EYG.
 
 
Atas hal tersebut, Provos EYG langsung  menghubungi keluarga mereka di Nias untuk meminta persetujuan, dan keluargannya menyampaikan tidak setuju, lalu Provos EYG mengatakan kepada keluarga bahwa jenazah harus diturunkan dari pesawat, dan jikalau tidak setuju keluarga harus membuat surat penyataan bahwa tidak setuju untuk melakukan otopsi dan tidak akan menggugat/menuntut. 
 
"Karena terjadi sedikit perdebatan itu, Keluarga terpaksa menyetujui dan menandatangani surat pernyataan tersebut, dikarenakan kalimat dari Provos EYG terkesan seperti mengancam," ungkap saudara almarhum kesal atas sikap yang memaksa dari Provos EYG.
 
Selanjutnya mereka pun berangkat, pada pukul 14.10 wib mereka tiba di bandara udara Silangit dan dijemput oleh ambulans tanpa personil TNI  dan langsung menuju pelabuhan sibolga, tiba pukul 17.30 wib.
 
"Kemudian, pada Rabu (05/06/2024), kami tiba di pelabuhan angin Gunungsitoli sekira pukul 08.00 wib, dan  sekira pukul 10.00 wib, kami tiba dirumah tanpa ada pengawalan dari personil TNI," tuturnya 
 
Disaat mereka di perjalanan menuju rumah, lagi lagi Provos EYG menghubunginya dan mengatakan untuk tidak membuka bungkusan plastik berisi baju almarhum dan mengarahkan untuk  menyerahkan barang tersebut kepada pihak kesatuan.
 
Saat tiba besok hari setiba dirumah duka sekira  ⁠Pukul 12.50 wib,  ada  2 orang personil dari SubDenPom I/2-5 Nias, datang melihat jenazah sembari meminta keterangan mengenai riwayat perjalanan dan keterangan lainnya yang berhubungan dengan almarhum 
 
Kemudian pada hari Kamis (06/06/2024),  Komandan Kompi Kesatuan Yonkes Christian Hutauruk tiba di rumah duka  dengan menggunakan baju sipil dikawal 2 orang TNI dari Kodim, kemudian pukul 11.10 meminta ijin untuk tukar pakaian menggunakan baju dinas.
 
Lalu, Christian Hutauruk  menjelaskan beberapa kronologi singkat mengenai penemuan jenazah almarhum,  serta menunjukan foto saat awal ditemukan tetapi tidak dapat mengirimkan foto tersebut kepada kami  keluarga dengan  alasan sedang penyelidikan,
 
Dan anehnya lagi, Christian Hutauruk tidak dapat memberikan/mengeluarkan surat bahwa kasus sedang dalam penyelidikan, atau memberikan surat keterangan kematian, atau penyerahan mayat. 
 
Namun ia mengatakan bahwa kedatangannya  hanya menyampaikan turut berbelasungkawa sebagai komandan, sembari menyerahkan 2 amplop berisi gaji 13 + remon dan uang duka dari kesatuan.
 
Pada kesempatan itu juga, Christian sempat meminta kepada keluarga untuk menyerahkan plastik berisi baju + handuk saat kejadian (barang bukti) dan surat pernyataan asli menolak otopsi.  
 
Sementara ia juga menjelaskan bahwa pihak Kesatuannya adalah pihak terperiksa atas meninggalnya Prima Saleh Gea.
 
Sementara itu dijelaskan keluarga, mereka Pihak keluarga menilai ada kejanggalan dan sangat mengharapkan agar kasus ini diungkap secara terang benderang.
 
"Serta pihak keluarga membantah tudingan di beberapa media nasional yang mengatakan bahwa almarhum bunuh diri akibat terlilit utang judi online." Pungkasnya.

Editor: Fahrin Waruwu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini