NAWACITAPOST.COM — Di tengah hamparan pesisir Papua Barat yang kaya akan potensi alam, langkah besar menuju era energi bersih Indonesia sedang diukir.
Bea Cukai Fakfak mengambil peran krusial sebagai pilar penyokong di garis depan dalam mengawal kelancaran Tangguh UCC Project—sebuah Proyek Strategis Nasional (PSN) yang mengusung teknologi mutakhir Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS).
Melalui pelayanan kepabeanan yang proaktif, cepat, dan terukur, otoritas pabean setempat memastikan setiap jengkal logistik dan perlengkapan berteknologi tinggi masuk tanpa hambatan demi menjaga ritme pembangunan energi nasional.
Kehadiran proyek skala megawatt ini tidak hanya berfokus pada ekstraksi sumber daya, tetapi juga menjadi tonggak sejarah implementasi teknologi penyerapan karbon di industri minyak dan gas bumi.
Menyadari tingginya urgensi operasional dan kompleksitas kebutuhan material di lapangan, Bea Cukai Fakfak menerapkan strategi pelayanan yang mengedepankan kecepatan, kemudahan, dan kepastian hukum.
Dedikasi tersebut ditunjukkan secara nyata melalui efisiensi proses birokrasi tanpa mengabaikan aspek pengawasan yang ketat.
Kepala Kantor Bea Cukai Fakfak, Rahmat Sarjito, mengungkapkan bahwa pelayanan kepabeanan dilakukan dengan mengedepankan profesionalisme, integritas, kolaborasi, dan inovasi.
Baca Juga: Kukuhkan Benteng Keuangan Negara, Menkeu Suahasil Nazara Tuntaskan Perombakan Besar Eselon II
“Untuk memastikan kegiatan proyek tetap berjalan lancar, Bea Cukai Fakfak juga memberikan pelayanan di luar jam kerja apabila diperlukan,” imbuhnya.
Komitmen pelayanan tanpa batas waktu ini menjadi kunci utama dalam menjaga kontinuitas rantai pasok industri strategis di kawasan timur Indonesia.
Sejauh ini, tingkat intensitas lalu lintas barang impor yang difasilitasi menunjukkan angka yang signifikan.
Menurut Rahmat, hingga periode pelaporan, Bea Cukai Fakfak telah memberikan pelayanan terhadap 18 Pemberitahuan Impor Barang (PIB), yang terdiri atas satu PIB impor sementara, 15 PIB re-impor untuk keperluan perbaikan, satu PIB fasilitas pertambangan, dan satu PIB untuk dipakai.
Dari kegiatan importasi tersebut, tercatat nilai devisa impor sebesar Rp291,73 miliar dengan total penerimaan negara mencapai Rp28,16 miliar.
Dukungan penuh yang diberikan Bea Cukai Fakfak tidak sekadar berfokus pada fasilitasi perdagangan dan target penerimaan kas negara, tetapi juga memastikan seluruh proses lalu lintas barang berjalan sesuai koridor hukum yang berlaku.
Integrasi antara fungsi pelayanan (trade facilitator) dan pengawasan (community protector) dijalankan secara seimbang untuk menciptakan iklim investasi energi yang sehat dan tepercaya.
“Pelayanan tersebut merupakan bagian dari dukungan Bea Cukai Fakfak dalam memastikan kelancaran arus barang yang dibutuhkan untuk pembangunan Tangguh UCC Project. Dalam pelaksanaannya, pelayanan tetap dilakukan dengan memastikan pemenuhan kewajiban dan kepatuhan terhadap ketentuan kepabeanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan,” ujar Rahmat.
Penerapan teknologi CCUS pada sektor migas diproyeksikan menjadi pendorong utama target penekanan emisi karbon global sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Di balik megah struktur dan canggihnya teknologi yang berdiri di Papua Barat, keterlibatan aktif otoritas kepabeanan lokal menjadi instrumen vital yang menggerakkan roda keberlanjutan tersebut.
Melalui pelayanan kepabeanan yang optimal dan sinergi dengan para pemangku kepentingan, Bea Cukai Fakfak terus mendukung kelancaran pembangunan nasional, khususnya pada sektor energi, dengan tetap menjaga kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.