Minggu, 19 Juli 2026

Empat Kali Pertemuan Versi BPD, Warga Keluhkan Bau dan Nyamuk, Toni HRD: Langkah-langkah Sudah Kita Lakukan

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Minggu, 1 Oktober 2023 | 22:27 WIB
Rumah Pemotongan Ayam (RPA) PT Trijaya Lestari Food
Rumah Pemotongan Ayam (RPA) PT Trijaya Lestari Food

Nganjuk, NAWACITApost.com - Hingga saat ini Warga Dusun Prayungan, Desa Prayungan, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur masih mengeluh adanya limbah RPA PT Trijaya Lestari Food, pada Minggu (1/10/2023).


Pada berita sebelumnya yang berjudul "Dua Kali Mediasi, Polemik Limbah RPA Lengkong Belum Ada Solusi, Ini Kata Kades Prayungan" warga masyarakat Prayungan mengeluhkan bau tak sedap dan sarang nyamuk yang disebabkan adanya limbah cair dari RPA PT Trijaya Lestari Food Bintang Lima.


Menurut Toni HRD PT Trijaya Lestari Food mengatakan bahwa, perusahaan sudah melakukan langkah-langkah tertentu mulai dari menunggu hasil lab, dan limbah tersebut dalam pembinaan dan pengawasan Lingkungan Hidup (LH).


"Jadi untuk ipal setiap bulan juga kita lab kan dan hasilnya setiap bulan kita laporkan ke Dinas LH, sebenarnya untuk air limbah kita itu juga dibutuhkan oleh masyarakat sekitar untuk pengairan sawah," kata Toni kepada jurnalis Nawacitapost.com pada Minggu, (1/10/2023) melalui seluler.




-
Foto profil Toni HRD PT Trijaya Lestari Food Bintang Lima ketika dihubungi melalui seluler

Toni menambahkan bahwa, untuk sampling atau statement warga yang mengatakan bau, bisa ditelusuri hingga ke Kedungmlaten, itu benar-benar bau atau tidak, untuk warna hitam itu kan di situ kan juga campur dengan sampah-sampah dan masyarakat sekitar situ buang sampahnya kan juga di sungai, termasuk sepanjang aliran itu kan ada rumah-rumah penduduk itu kan membuangnya sampah, MCK, juga bangkai-bangkai juga dibuang ke sungai.


"Untuk statement atau sampling warga konotasinya itu kan warga yang mana, begitu kan kita harus tahu indikasi apa, ini mungkin ada kepentingan-kepentingan tertentu, karena selama ini untuk pembuangan limbah sudah sesuai dengan prosedur-prosedur yang ditentukan dari DLH," imbuhnya.


Lanjut Toni, sebenarnya langkah-langkah lain juga sudah kita lakukan, meskipun kita sebenarnya ranah kita secara langsung kan masalah nyamuk itu kan tidak ada, cuma kita dari perusahaan kemarin itu sudah sudah kita mengambil langkah untuk membantu warga untuk melakukan Fogging dan itu sudah kita lakukan, itu di Desa Prayungan kemarin sudah kita lakukan, bahkan upaya-upaya itu sudah jauh-jauh hari ada yang warga kena apa demam berdarah, itu meskipun itu kan lingkungan yang jauh dari perusahaan kita, kita sudah membantu untuk melakukan untuk Fogging.


"Untuk saat ini baru satu Minggu yang lalu kita lakukan, untuk Fogging itu kan kita lakukan berdasarkan permintaan secara prosedur permintaan dari Desa jadikan memang kalau ada permintaan dari Desa minta bantuan Fogging, ya kita lakukan itu kan kita secara resmi secara prosedur tertulis dari Desa," ucapnya.


Masih tetap bersama Toni, untuk keluhan sudah kita lakukan sesuai dengan petunjuk LH, termasuk kemarin sudah diarahkan dari DLH yakni Kepala DLH (Subani red), jadi untuk pengolahan itu ada perbaikan pengolahan, untuk masalah bau itu kalau dirasa bau kita upayakan untuk menghilangkan bau itu," jelasnya.


Sementara Dwi Joko perwakilan warga masyarakat Prayungan mengatakan bahwa, ketika pertemuan membahas tentang penyedotan limbah, dan dalam pembahasan tersebut penyedotan dimaksud adalah yang bawah terlebih dahulu yakni di bawah jembatan Desa Kedungmlaten.


"Awalnya sudah ada solusi untuk disedot ke arah timur ke dam cengkok, namun ternyata tidak menjadi solusi, karena baru saja menarik selang ke sana masyarakat sebelah timur juga sudah mulai bersuara, yang pada akhirnya gagal disedot," kata Dwi Joko kepada jurnalis Nawacitapost.com pada Minggu (1/10/2023) melalui seluler.


Dwi Joko menambahkan bahwa, sempat disedot untuk pengairan sawah namun tidak maksimal alias tidak berkurang dan bukan merupakan solusi terbaik, dikarenakan orang yang membutuhkan pengairan sawah itu tidak semuanya dan tidak setiap hari, karena ada salah satu warga yang kita konfirmasi, dan mengatakan ketika butuh saja kalau tidak butuh ya tidak nyedot.


"Karena itu bukan merupakan solusi, harapan kami perusahaan tidak berlindung di balik masyarakat, dengan mengatakan itu dibutuhkan masyarakat, kalau menunggu hasil lab untuk memberikan solusi itu juga bukan jaminan, dikarenakan ini tentang bau dan sarang nyamuk, dan tahu itu hingga ke Kedungmlaten," imbuh Dwi Joko.


Dwi Joko menjelaskan bahwa, untuk kontribusi atau kompensasi yang pernah diberikan kepada masyarakat itu hanya satu tahun sekali, dan jangan terus-terusan mengatasnamakan masyarakat yang seakan-akan masih membutuhkan, karena kami tidak melarang untuk beroperasi atau produksi, kami hanya minta untuk menyelesaikan limbah yang masih mengalir di sungai.

Halaman:

Editor: Tiarsin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Terkini