Surabaya NAWACITAPOST - Mengisi masa resesnya, anggota Komisi D DPRD Surabaya Dyah Katarina menjaring aspirasi warga Simo Tambaan Sekolahan, RT01 RW09 Simomulyo Baru, Sukomanunggal, Minggu (8/10/2023) sore.
Masih membawa isu-isu tentang pendidikan, sosial, kesehatan dan ketenagakerjaan, anggota DPRD Surabaya 2 periode ini memancing keaktifan warga untuk memberikan aspirasi bahkan ide-ide dan kritikan untuk pembangunan kota Surabaya kedepan.
Tak luput dari paparannya, mantan ketua TP-PKK kota Surabaya selama 13 tahun ini menyampaikan tentang keberadaan Kader Surabaya Hebat (KSH) yang nampaknya masih banyak terkendala dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.
Dyah menyampaikan, bahwasanya KSH seharusnya bisa diberikan wawasan yang lebih baik untuk menjalankan tugas-tugasnya selaku garda terdepan Pemkot Surabaya untuk menampung dan melaporkan semua yang terjadi di masyarakat, khususnya dalam hal sosial dan kesehatan masyarakat.
"Berat memang, memantau kesehatan masyarakat, kekerasan dalam rumah tangga, PHBS, dll," ujar Politisi PDI Perjuangan ini.
"Maka, KSH butuh dimampukan. Kalau tidak, data yang dikumpulkan pasti akan banyak kesalahan dan bisa berakibat fatal," imbuhnya.
Masih papar Dyah, Pemkot Surabaya pastinya mencurahkan segala kemampuan, baik pemikiran melalui program-programnya ataupun dana untuk memberikan pelayanan dan pembangunan yang terbaik bagi warganya. Namun memang belum sempurna dan ada yang perlu diperbaiki secara kebijakan maupun teknis di lapangan.
"Seperti program pelatihan kerja atau usaha, apakah sudah tepat sasaran? Atau juga terkait bantuan, apakah sudah merata dan tepat sasaran?
Beralihnya MBR menjadi Gamis, kata Dyah juga masih banyak menimbulkan masalah. Meski aturannya memang dari pusat, tapi bila dicermati, 12 syarat Gamis memang tidak sesuai dengan kondisi kota Surabaya.
"Bahkan ada juga yang sudah ditempeli stiker Gamis, tapi hingga hari ini warga tersebut belum pernah mendapat bantuan," tegas DK sebutan Dyah Katarina yang adalah istri dari mantan Walikota Surabaya Bambang Dwi Hartono (Bambang DH, red).
"Kalau njenengan tidak memberi informasi, pemerintah maupun anggota Dewan tidak akan tahu dan pasti tidak ada pembenahan untuk kebijakan yang sudah dijalankan," kata Dyah.
Reses ini, lanjut Dyah adalah proses penjaringan aspirasi yang dibiayai pemerintah untuk perencanaan kebijakan kedepan.
"Maka sampaikan apa yang harus njenengan sampaikan, baik masalah pembangunan, sosial, dll, demi masa depan kampung ini," katanya.
Diakhir, Dyah Katarina menyampaikan pesan agar masyarakat menjaga kesehatannya.
"Cuaca sedang panas-panasnya, tidak hanya Surabaya tapi di seluruh Indonesia. Maka saya menghimbau agar masyarakat menjaga kesehatannya. Minum vitamin, olah raga dan jangan banyak minuman dingin," tukas Dyah Katarina.
Beberapa usulan masuk ke catatan perempuan anggota Dewan yang energik ini. Seperti kata Susanti, ketua RT04 yang mengeluhkan terkait warga yang sudah ditempeli stiker Gamis namun tidak pernah dapat bantuan.
Warga juga mengeluhkan terkait pembangunan jalan dan saluran air di Simo Tambaan Sekolahan. " Dari sebelum covid sampai sekarang diukar-ukur terus tidak ada realisasi," ucap Mukaliman salah satu sesepuh Simo Tambaan.
Pak Purnomo,, Wakil ketua RT01 juga mengeluhkan warga yang tidak mendapat saluran PDAM karena kehabisan jaringan.
Kemudian, Warga juga butuh solusi terkait Bantuan untuk KK domisili tidak tetap.
Masalah Zonasi dan Pemberdayaan lansia Gamis juga merupakan PR besar bagi kota Surabaya. "Semua sudah masuk catataan saya, segera kita koordinasikan dengan dinas-dinas terkait dan kita masukkan dalam pokok pikiran Dewan agar segera mendapat solusi yang terbaik. (BNW)