daerah

Toleransi Menjadikan Solo Maju Pesat

Senin, 3 Juli 2023 | 21:02 WIB
Talkshow Gibran Bareng Kyai & Alumni Ponpes Tebuireng ! Bahas Kaum Radikal & Intoleransi, Sabtu (1/7/2023). Foto Chanel YouTube Berita Surakarta.

NAWACITApost.com – Sebelum Gibran memimpin Solo. Kota ini salah satu sarang teroris. Sebelum dan sesudah melakukan aksinya, para pelaku teror itu bersembunyi di tempat ini.

Bahkan dalam lingkup paling kecil. Artinya tidak melakukan aksi teror. Kaum intoleren dan radikal, walaupun seagama tapi berbeda aliran selalu meneror. Apalagi yang berbeda agama dengannya, sudah pasti disebut kafir dan layak dimusuhi dan disingkirkan. Bisa dikatakan kota intoleren.

Akibatnya, pembangunan hanya bergerak di tempat, kalau pun ada hanya dinikmati oleh segelintir orang.

Sementara dari sudut estetika. Kota ini menjadi kumuh dan turis lokal maupun manca negara enggan singgah berkunjung dan bermalam. Pendapatan pun tak didapat oleh para pelaku usaha termasuk dunia pariwisata.

Namun perlahan nan pasti. Akhir Februari 2021 menjadi tonggak kebangkitan Solo dari intoleren menjadi toleran nomor empat (4) yang diberikan oleh lembaga Setara Institut yang berkantor pusat di Jakarta.

Hasilnya, yang dulu tak pernah mau ke Solo, malah ingin berkunjung dan bermalam. Pendapatan masyarakat dan Pemkot Solo pun meningkat. Hotel penuh dengan tamu dari luar Solo.

Namun, pencapaian yang didapat itu. Tak semudah membalikan telapak tangan. Cibiran dan nyinyiran pernah diterimanya perayaan imlek dengan memasang lampu lampion, patung, shio-shio di balai kota Solo, kita disebut cabang dari Tiongkok. Perayaan festival ogoh-ogoh disebut kafir.

Tetap kegiatan itu jalan terus. Artinya semua agama yang ada di Solo, tetap mendapat tempat utama dan terhormat bila bertepatan dengan perayaan agama tersebut. Hiasan, ornamen di balai kota dan sudut-sudut utama kota Solo terpasang dengan megahnya dalam acara perayaan agama yang merayakannya.

Hal luar biasa lainnya, ternyata bukan hanya toleran nomor 4, tetapi Solo kini telah mengalahkan Yogyakarta dalam kunjungan turis lokal dan mancanegara. Bahkan indeks pertumbuhan ekonominya mengalahkan nasional, yang 5 persen lebih, sementara Solo 6,25 persen.

Berarti toleran sebagai pilar utama pembangunan menjadi pijakan Gibran dalam menata kotanya bukan hanya toleransinya, tetapi menguntungkan bagi kesejahteraan rakyatnya.

Tags

Terkini