daerah

Surabaya Waterfront Land: Simbol Kemajuan atau Ancaman bagi Keadilan Sosial?

Rabu, 8 Januari 2025 | 10:45 WIB
Ilustrasi dampak Reklamasi. (Suber Foto: https://knti.or.id/)

NAWACITAPOST.COM - Proyek Strategis Nasional (PSN) Surabaya Waterfront Land (SWL) di Pantai Timur Surabaya terus menuai perdebatan sengit. Pembangunan yang digadang-gadang menjadi ikon modernisasi Surabaya ini berpotensi membawa banyak manfaat, namun juga menyimpan risiko besar bagi masyarakat lokal. Ketua Paguyuban Arek Suroboyo (PAS), H. Kusnan, dengan tegas meminta pemerintah dan pengembang untuk mengutamakan keadilan sosial, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat dalam proyek ini.

SWL: Modernisasi dengan Potensi Ekonomi Besar

Dalam pandangan Kusnan, SWL memiliki peluang besar untuk mendorong Surabaya menjadi kota global. Proyek ini dirancang untuk mengintegrasikan kawasan pesisir dengan fasilitas modern seperti marina, pusat perbelanjaan, kawasan ekowisata, dan ruang rekreasi kelas dunia.

“Kalau dikelola dengan benar, SWL bisa menjadi katalisator ekonomi Surabaya. Pariwisata akan meningkat, lapangan kerja akan terbuka, dan citra kota ini akan terangkat di mata dunia. Tapi, jangan lupa bahwa manfaat itu harus dirasakan oleh semua lapisan masyarakat, terutama warga pesisir yang tinggal di kawasan tersebut,” ungkapnya.

Menurut Kusnan, banyak warga pesisir bergantung pada laut untuk penghidupan mereka. Kehadiran proyek ini bisa menjadi peluang, tetapi juga ancaman jika tidak melibatkan mereka sejak awal.

Ancaman Peminggiran Warga Lokal dan Ketimpangan Sosial

Kusnan mengingatkan bahwa proyek besar seperti SWL sering kali membawa gelombang urbanisasi yang berujung pada peminggiran masyarakat lokal. Ia memberi contoh perumahan elit di Surabaya yang kerap hanya dinikmati oleh golongan tertentu tanpa melibatkan warga sekitar.

“SWL jangan sampai hanya menjadi ‘kota dalam kota’ yang eksklusif. Warga lokal jangan hanya jadi penonton di rumah mereka sendiri! Kalau begitu, buat apa proyek ini disebut strategis untuk masyarakat?” tegasnya.

Kusnan juga menyoroti potensi ketimpangan sosial yang semakin melebar jika tenaga kerja lokal hanya ditempatkan pada posisi rendah.

“Apakah warga lokal hanya akan jadi satpam atau pesuruh di kawasan megah ini? Kita harus memastikan bahwa mereka mendapatkan pelatihan dan pekerjaan yang layak, sesuai dengan kemampuan dan potensi mereka,” katanya.

Kekhawatiran Lingkungan: Ancaman terhadap Mangrove dan Ekosistem Laut

Dampak lingkungan juga menjadi perhatian utama. Kawasan Pantai Timur Surabaya dikenal sebagai habitat penting mangrove yang berfungsi menahan abrasi, menjadi tempat hidup berbagai spesies laut, serta melindungi wilayah dari bencana alam.

“Jangan sampai proyek ini merusak mangrove dan ekosistem laut. Kalau lingkungan rusak, siapa yang akan menanggung akibatnya? Anak cucu kita yang akan menderita. Pembangunan harus memperhatikan kelestarian alam, bukan hanya mengejar keuntungan ekonomi semata,” ujar Kusnan.

Solusi: Pembangunan Inklusif dan Berkelanjutan

Halaman:

Tags

Terkini