daerah

Konferensi Ilmiah Pertama BRIN di Bidang Kesehatan

Selasa, 22 November 2022 | 13:51 WIB

Cibinong, NAWACITAPOST.COM - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai satu-satunya lembaga penelitian di Indonesia yang terbentuk pada 2021,  dan di dalamnya terdapat Organisasi Riset Kesehatan yang diharapkan mampu menjawab tantangan besar mengatasi beban nasional di bidang kesehatan. Selain itu, bidang kesehatan di dalam peta jalan Sustainable Development Goals (SDGs) bahwa kesehatan secara khusus ditempatkan sebagai tiga prioritas utama dan dianggap sebagai Good Health-Wellbeing.

Baca Juga: BRIN Science Show Tampilkan Riset dan Inovasi dengan Pendekatan Populer

Sejalan dengan itu, BRIN menggelar konferensi internasional pertama yakni BRIN's 1st : International Conference for Health (ICHR) 2022. Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko mengatakan para pembicara dan delegasi yang menjadi narasumber dalam konferensi akan berbagi pengetahuan dan memperluas wawasan kita.

Sekitar 200 peserta dari lebih dari 5 institusi di seluruh Indonesia juga di luar negeri, menjadikan konferensi yang diluncurkan sangat bereputasi dalam penyelenggaraan perdananya. “Kami berharap melalui konferensi ini, kami dapat memfasilitasi diseminasi dan pertukaran kemajuan intelektual terbaru yang dibuat di seluruh lembaga penelitian dan untuk mempromosikan prospek kolaborasi multinasional dan atau multi lembaga untuk mencapai kesehatan dan kesejahteraan yang baik,” terang Handoko.

Handoko mengungkapkan, target BRIN adalah menjaring 150 abstrak berkualitas tinggi. “Sejauh ini, kami telah menerima 234 abstrak yang akan diikuti oleh 100 naskah lengkapnya baik dari peserta Indonesia dan luar negeri. Abstrak-abstrak tersebut dipastikan akan ditelaah dengan cermat. Manuskrip lengkapnya telah melewati blind review ganda, dengan tingkat penerimaan 38%, yang mungkin merupakan konferensi paling kompetitif yang diadakan oleh BRIN. Sebagai tindak lanjut pasca-konferensi, manuskrip yang dipresentasikan akan diterbitkan di penerbit terindeks global dan bereputasi tinggi sebagai prosiding,” rincinya.

“Last but not least, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pembicara, delegasi, dan peserta yang telah datang dan terlibat dalam konferensi pertama kami. Saya harap kita bisa menikmati acara ini bersama-sama melalui platform digital selama dua hari ke depan. Saya percaya acara ini akan memberi kita akses ke berbagai informasi mendalam yang akan membantu kita mengembangkan keterampilan kita, terutama kapasitas kita dalam penelitian. Semoga semua sesi berjalan dengan sukses dan saya berharap semuanya merasakan sebuah  konferensi yang sukses, aman dan bermanfaat,” pungkas Handoko.

Adapun tujuan digelarnya konferensi ini adalah untuk memfasilitasi penyebaran dan pertukaran kemajuan terbaru yang dibuat di seluruh lembaga penelitian dan untuk mempromosikan prospek kerjasama multinasional dan atau multi-lembaga untuk mencapai kesehatan dan kesejahteraan yang baik.

Beberapa tema diusung pada konferensi ini seperti: ilmu biomedis, zoonosis, resistensi antimikroba dan penggunaan antimikroba, kesehatan, vaksin dan obat-obatan, penelitian translasi pada praktik kedokteran, kimia produk alami, obat tradisional, kesehatan dan gizi masyarakat, darurat kesehatan masyarakat, dan ilmu kedokteran hewan.

Kepala Organisasi Riset Kesehatan Ni Luh Putu Indi Dharmayanti menyampaikan pesan penting dalam Peningkatan Riset Kesehatan untuk Kesiapsiagaan Penyakit Menular Baru di Masa Depan. Hal ini tidak lepas dari Indonesia yang memiliki beban ganda di bidang Kesehatan, yaitu penyakit tidak menular dan penyakit menular.

“Penyakit menular baru dan penyakit menular yang pernah muncul masih menjadi ancaman di dunia global dikarenakan mempengaruhi beberapa faktor seperti beban ekonomi, mortalitas – morbiditas, dan implikasi sosial dan geopolitikal. Khususnya setelah adanya pandemi SARS CoV2 yang menyadarkan perlunya upaya dan antisipasi dalam kesiapsiagaan menghadapi pandemi berikutnya,” terang Indi.

Menurutnya, hal yang harus menjadi perhatian adalah sumber penyakit menular yang seringnya berasal dari hewan, sehingga diperlukan pemahaman sifat inang utama, jangkauan inang, kejadian spillover virus, frekuensi menginfeksi, dan jenis inang perantaranya. Dengan memahami hal ini akan memperkuat surveilans penyakit zoonosis di wilayah terpencil.

Selain itu diperlukan pendekatan dalam sektor Kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan untuk mencapai Kesehatan masyarakat yang lebih baik. Pendekatan One – Health yang memiliki prinsip komunikasi, kerjasama dan kolaborasi di beberapa sektor diharapkan menjadi strategi yang efektif untuk mengatasi resiko Kesehatan secara global.

“Maka dalam menghadapi penyakit menular diperlukan peningkatan kapasitas dan kapabilitas riset dan penguatan surveilans untuk mengidentifikasi patogen baru, kapasitas Infrastruktur riset yang sesuai, serta kerjasama, komunikasi dan koordinasi yang efektif untuk upaya riset  kesiapsiagaan menghadapi dan memprediksi pandemi selanjutnya,” pungkas Indi.

Tags

Terkini