" Pesan pak wali, semua anak surabaya harus bersekolah. Karena itu, dia berterima kasih kepada Imam Syafii yang menemukan masih ada anak tidak bisa sekolah karena kemiskinannya atau tidak punya dokumen adminduk, " Ucap Ida.
""Tentu saja kami tidak bisa mengetahui kondisi semua anak di surabaya. Namun kami pastikan akan bekerja keras untuk mewujudkan Surabaya Hebat disegala bidang, khususnya mengatasi anak-anak yang tidak bisa sekolah," Tukasnya.
Sementara itu, Saida Istri Hasan mengungkapkan Terima kasihnua kepada semua pihak.
"Sebagai orang tua asuh Hafiz, terkhusus saya berterima kasih kepada pak Imam Syafi'i yang sudah peduli membantu Hafiz putranya, sehingga bisa sekolah," Ucapnya. (BNW)
Surabaya (beritajatim.com) - Muhammad Hafiz Karyanto 8 tahun adalah seorang anak asuh tukang becak yang tinggal di Jalan Dupak Timur, Bubutan, Kota Surabaya. Akhirnya tahun ini ia bisa bersekolah di SDN Gundih 1.
Awalnya, Hafiz nyaris tak bisa bersekolah lantaran terkendala adminstrasi. Orang tuanya dahulu menghilang tak diketahui rimbanya, sehingga ia tak memiliki akte kelahiran dan Nomor Induk Kependudukan (NIK).
Akhirnya keinginan orangtua melihat anaknya bersekolah ada jalannya. Ia dibantu anggota komisi A DPRD Surabaya Imam Syafii untuk mengurus adminduk ke Dispendukcapil.
"Alhamdulillah akta kelahiran dan NIKnya yang saya bantu urus di Dispendukcapil sudah selesai," kata Imam Syafii saat mengantar Hafiz di SDN Gundih 1, Rabu (27/7/2022).
Setelah Hafiz memiliki akte kelahiran dan NIK, ia langsung berkoordinasi dengan Kepala Sekolah SDN Gundih 1, Slamet Setyoadi dan Sekretaris Dispendik, Ida Widayati agar Hafiz dapat segera bersekolah.
"Alhamdulillah akhir boleh bersekolah di situ. Meski agak telat karena tahun ajaran baru sudah dimulai lebih dari seminggu," ujar Imam.
Imam menyebut ini sebagai kado indah di moment hari anak nasional. Ia sejak awal berprinsip agar semua anak bisa bersekolah walaupun tidak punya biaya dan kelengkapan dokumen adminduk. Menurutnya, pendidikan merupakan pemutus mata rantai kemiskinan.
"Saya yakin setiap anak di Indonesia itu punya cita-cita. Saya juga yakin mata rantai kemiskinan hanya bisa diputus melalui pendidikan," katanya.
Ia sering mendapati banyak anak-anak tidak bersekolah padahal keinginannya untuk sekolah sangat tinggi. Untuk itu, ia mengajak Pemkot Surabaya bekerja sama untuk mencarikan cara agar anak-anak dapat bersekolah dan mengejar cita-cita.
"Karena itu jika kita menemukan anak tidak bisa bersekolah ayo kita bantu carikan cara agar mereka dapat mengejar mimpi," ucap mantan jurnalis senior ini.
Sementara itu, Ayah asuhnya, Hasan Basri sehari-hari bekerja sebagai tukang becak yang penghasilannya tak menentu. Namun, ia dan istrinya masih memiliki semangat dan tetap mendukung anaknya agar bisa mewujudkan mimpinya.