Bagi Reni, praktik seperti ini perlu terus diperkuat. Data tidak cukup hanya menunjukkan berapa banyak keluarga yang masuk kategori miskin, tetapi juga harus mencatat bentuk bantuan yang telah diterima dan perubahan kondisi keluarga setelah intervensi dilakukan.
“Kalau sudah diketahui mana keluarga yang membutuhkan bantuan, mana rumah yang sudah diperbaiki, kita harus mengecek kembali dampaknya. Apakah anaknya tetap sekolah? Apakah keluarganya semakin sejahtera? Jangan sampai program berhenti setelah bantuan diberikan,” tuturnya.
Pendidikan Jadi Jalan Memutus Rantai Kemiskinan
Reni juga menyoroti pentingnya menghubungkan data sosial dengan keberlanjutan pendidikan anak-anak di Bulak Banteng.
Ia mendorong kelurahan memiliki pemetaan yang lebih terperinci mengenai lulusan SMP, SMA, dan SMK, termasuk kondisi mereka setelah lulus. Apakah melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, bekerja, mengikuti pelatihan keterampilan, atau justru tidak masuk dalam aktivitas pendidikan maupun pekerjaan.
Menurutnya, data tersebut dapat menjadi dasar bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk menyiapkan program yang sesuai dengan kebutuhan generasi muda.
“Anak-anak kita setelah lulus SMA harus punya arah. Kalau ingin kuliah, kita dorong. Kalau terkendala ekonomi, pemerintah harus hadir melalui beasiswa. Kalau memilih bekerja, mereka perlu memiliki keterampilan agar bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik,” jelasnya.
Reni menyebut pendidikan sebagai salah satu instrumen penting untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Karena itu, data anak yang berpotensi putus sekolah maupun keluarga yang kesulitan membiayai pendidikan perlu terhubung dengan program bantuan yang tersedia.
Ia juga menyinggung pentingnya mengoptimalkan akses terhadap Program Indonesia Pintar (PIP), Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah), serta program beasiswa pemerintah daerah sesuai ketentuan dan persyaratan masing-masing.
Reni mengungkapkan, selama sekitar dua tahun bertugas di DPR RI, dukungan Program Indonesia Pintar yang difasilitasinya bersama berbagai pihak untuk pelajar di Surabaya dan Sidoarjo telah menjangkau sekitar 22 ribu penerima. Ia berharap akses bantuan pendidikan terus diperluas bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan.
Apresiasi Juga Menyasar Dunia Pendidikan
Selain mengunjungi Kelurahan Bulak Banteng, Reni turut membawa perhatian terhadap persoalan pendidikan di Surabaya. Ia menegaskan bahwa peningkatan kualitas pendidikan tidak cukup hanya melalui program, tetapi juga membutuhkan ketersediaan guru, infrastruktur sekolah yang layak, serta pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan pendidikan.
Ia menyoroti pentingnya memastikan program pembentukan karakter dan pembiasaan positif bagi peserta didik berjalan konsisten, bukan sekadar menjadi kegiatan seremonial. Persoalan perundungan atau bullying juga harus ditangani melalui kerja sama sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat.
Menurutnya, sekolah harus menjadi ruang aman bagi anak untuk belajar, tumbuh, dan mengembangkan potensi. Pemerintah pusat dan daerah perlu terus bersinergi agar kebutuhan guru, perbaikan bangunan sekolah, serta pemerataan akses pendidikan mendapatkan perhatian.
Reni menegaskan, berbagai aspirasi yang ditemuinya di lapangan akan menjadi bahan untuk memperkuat komunikasi dengan kementerian dan lembaga yang menjadi mitra kerja Komisi X DPR RI.
Kolaborasi Jadi Kunci Keberlanjutan
Kunjungan tersebut turut dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimca) Kenjeran, termasuk Camat dan Kapolsek Kenjeran, jajaran Kelurahan Bulak Banteng, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK), kader PKK, serta Kader Surabaya Hebat (KSH).
Reni berharap seluruh unsur tersebut terus memperkuat kolaborasi dalam mengembangkan tata kelola data dan menyelesaikan persoalan sosial di tingkat kampung.